C.
KEDATANGAN SONBAI KE MUTIS
Mengenai kedatangan leluhur Sonbai ke gunung Mutis
bukanlah atas kesukaannya sendiri untuk berkelana tetapi diutus oleh kakaknya
Liurai Wehali untuk menguasai serta mengamankan wilayah pegunungan, sebagai
sumber aliran sungai besar di pulau Timor.
Banyak penulis orang barat yang mengungkapkan
tentang kedatangan Sonbai dari wehali (malaka) sebagai penjelajahan sekaligus
sampai ke gunung Mutis.
Dr. P. Middelkoop mengutip tuturan dari Balo Kune
yang dimuat dalam bukunya berjudul Lets Over Sonbai mengatakan bahwa Sonbai
datang dari belu melalui Oeluan (Noemuti) terus ke kumlolo dan menemui Nai Ke
Kune di sa'tabu. Namun hal itu tidaklah mungkin, karena situasi dan kondisi
pada zaman kedatangan Sonbai ke Mutis belum aman. Dimana-mana masih saja
terdapat perang tanding antara kelompok-kelompok suku bangsa sehingga dalam
perjalanan penjelajahan wilayah yang harus dikuasainya memakan waktu yang cukup
panjang, puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebagai seorang pahlawan, tentu perlu Ia meninjau
lebih dahulu kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Pertama kali Ia menanjak
dari tempat penghuniannya semula yaitu Besikama dan Ia hanya mampu mencapai dan
menguasai wilayah Biudukfoho. Wilayah itu terkenal dalam tuturan almarhum
dengan sebutan berangkai Fautbakus Bi uluk Noel Bi Lomi. Yang disebut Fautbakus
Bi uluk Noel Bi Lomi sebuah bukit yang pernah ditunjukan oleh almarhum Tua
Sonbai ketika sedang membangun lumbung makanan di ladangnya Nonohonis (desa
Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan 5 Km dari Soe arah ke Kapan). Dari bukit itulah leluhurnya meletakan batas
wilayah dengan kakaknya Liurai . bila dikutip dari kata-katanya dengan bahasa
dawan berbunyi : Bi le a tubu nae in tunan, le hai Uiskoknais-unu nabela nakat
nok in tataf Liulai. Dikatakan bahwa diatas bukit Biulukfoho (Biudukfoho)
mereka memandang ke seluruh wilayah pegunungan seraya mengatakan : Eut-naijuf
ma po'naijuf, eut naimnuke en oenunu Behael an mainua ma namnamben artinya
tanah kintal pangeran, tanah padang pangeran yaitu wehali telah luas.
1. Peninjauan/Pengamatan
Menurut
tuturan dari Balo Kune kepada Middelkoop yang dimuat dalam bukunya Lets Over
Sonba'i dikatakan bahwa Sonba'i berjalan terus sampai ke kupang tetapi tidak
menemui penguasa wilayah ataupun penduduk. Lalu Ia kembali melaporkan kepada
kakaknya Liurai Wehali bahwa Ia tidak pernah menemui penguasa wilayah
pegunungan (dlm bhs dawan Pahe Nakan) kemuadian Ia disuruh kembali lagi oleh
Liurai Wehali untuk mencari penguasa pegunungan (Pahen Nakan) dan apabila telah
dijumpainya supaya mengirimkan beritas kepadanya. Sebab utama penugasan Sonbai
untuk mencari penguasa wilayah pegunungan dikarenakan mereka tinggal dekat
pantai laut sehingga mereka sangat kekurangan air tawar pada musim kemarau.
Pada musim kemarau mereka sering kali hanya minum air yang rasanya asin sekali
karena semua air tawar telah kering. Oleh karena itu mereka harus menguasai
sumber air sungai benenai untuk tidak kekurangan iar di musim kemarau.
Menurut
Tua Sonba'i Almarhum bahwa Ia ditugaskan untuk mencari dan menemukan hulu
sungai benain untuk mengamankannya, karena kalau tidak demikian, maka
keselamatan mereka yang bermukim di muara sungai benain akam mengalami
kesulitan dikemudian hari.
Tentang
peninjauan atau pengamatan wilayah menurut almarhum Tua Sonbai tidak
dilakukannya sendiri melainkan leluhurnya menugaskan para pengiringnya untuk
meninjau wilayah pegunungan karena karena leluhurnya seorang bangsawan dan
sekaligus berkedudukan sebagai pahlawan. Peninjauan wilayah pegunungan
ditugaskan kepada beberapa kelompok peninjau yang masing-masing dipimpin oleh
seorang pemimpin kelompok. Nama dari pimpinan masing-masing kelompok itu akan
dijelaskan di bawah ini :
Neon
unu fai unu, Liulai-le'u, Sonba'i-le'u, Liulai-Sila Sonba'i-Sila, non sin pah
ma non sin nifu. Sae nem nako oemataf ma peut-uf, es oehonis-Oenunu, Oetobe ma
Maubesi, na ne nak on tufe ba'noni un te esnan, fae ba'noni un te esnan, po
naijuf te esnan, eut naijuf te esnan.
Na
ait okam na'latnok antein, neuba Fautbakus Bi Uluk Noel Bi Lomi : te nanet na
te'pok anbin ma nasnapbok anbin, an ba nok anbin ma an biul nok anbin. Nak on
bahan namnamben, bilu namnamben, bahan po'naijuf te esnan bilu po'naijuf te
esnan bahan po'naimnuke te esnan, bilu po'Naimnuke te esnan.
An
pene matan Neno, human Neno, an latan matan Neno ma human neno, neu ba tua
mainuan, tune mainuan, sane mainuan, ma lele mainuan, tubu mnaun ini okem mnaun
ini es : Lobus Tubaki Keunam Tosana Nufu ma Taimetan Baboti ma Oenaek, Namkelam
Noemuti Fautboke ma Aenma'u, Temnam Konbaki, Kemuni Manenu, pun-am Senpena
Loil-am Belo-boton.
Leolkan
fanim an bain an fanit nako : Bonem Sambet Boenam Ainan, Lilom Tuaton Ansam
Fautfue, Ukbui-am Fautkoto Nasim Oenoah : Sonaf Penkolo Hae-nilulat, Kunu
Pansui Buitnam Ansaof, Nun nonim Hasoknobe Mausikum Oel Nai Obas, Kekbanim
Maunfui Meo-sine Atbe, Saubnim Noenon Sunu am Ta nuka Taenam Lakusna'o, Lanum
Fobesi Linkaki ma Aset.
Lakan
tenim man elan tenit nako : Meun-am Oe-un, Hoineno ma Oekam, Bibkon-kono
Sahle-le'u Sah-nam Oko Toli ma Saenam, sanum Oelok Ninom Nenoat, Fat ma Tole'u
Kenum Fautmatoak, Bensam Oebo' bieka oelai, Putnam Sobo, Tobe ma nauban Sona'
Liunesi, Kini –naekam Kini-kliko, Tesi ma Toinheka, lunum simo Lunu Nianam
Klone ma Laenpani.
Tek
no meset nak tun-aman Fautmean, Laimun ma laimean, Nekin Neofanu, Neofanu Onam.
Tenin-tenit-nako
: Faum Fautkopa Kiki ma Bubneo Matliam Bi Keke, Pisnam Laisnon Ailam Neonmat,
Tef-tefam Oenai, Oetoli ma Oefatu, Kianam Babuin Putnim Nunpene, ofu Manenu
Baki ma Tunis : te nenet baki Nai Sonbai nabelkon esan, tola Nai Sonbai
nabelkon esan.
Sanun
finit neuba lamu in nanan, nais meni in nanan es : Naem Nailete Kuamukem Bi
Ta'e, Taspupu ma Tpuamanu Omem Feu, Kusi ma Tektek no'in Nifu ma Pleo, Tapnam
Tuikneno Kele ma ba'namas Niuflo'im Haumahatas, Kitnam Mat molo Kuafenum
Fatu-tuta, Nekem Kualin, Kualin ma Kuatae, Toai'm Tuapakau Kokne'em Fatukbubu :
te nanet baki Nai Sonbai, tola Nai Sonbai nabelkom esan.
Sanun
finit neuba tasi in ninen nifu in ninen, oki tu'an pesen tu'an, tua mnelan tune
mnelan es: Bitnam Ajaononi Nolnam Ta'us, Oelamam Oeme Kobom Tuafanu Kati ma
Haumeto Tefa ma Sonbaunin, Beno Maiste Bena unmoen, polom Esliu Bonim uptuka,
pnitem Elbos Linfahi ma oekonos.
Li'an
fanin noebanin fanit nako : Lulfam Batnun Sumnam Niufkusi Sa'Laelam Nifupapan
Buniunam Fatutnana, Filim Oebaki Putu Oelhue, Nullem Tenusmala Ailam Neonmat
Mnela koto ma Tuafanu.
Tek
no meset nak : Bunu Biteno Nenum Banam, Klaban Tainlasi Pillim Tunbesi Pillim
Nuntobe Se'se' om ma Sa'sa, Kuku ma Tutasi
Maunam Niki-Niki Lokim Aisbesi Sesna'em Faunan.
Se'an
tenim ma nao ntenit, neuba Su tnana auti-tnana es: Lu'um Neofna Sekim Suana'e
Keko ma Tiuptunis, Benum Ektob Kona-Menlam Nunu-lete, Snaplobim Hu'he'o
Sakalili Met'ana Lilham ma Ponain. Tek no meset nak on : Sonim Bi-Nifu Telo ma
Talmanu, Fautle'um Manu – opat.
Se'an
tenit neuba Tunbaun ma Nekbaun, Kopnam Olain Lilom Bauknasi Kiututa ma Boinbeti
Sub'am Fautfeto Nunhilo –Naomusain ma Tanon nane pahe tu'an te esnan, nifu
tu'an te esnan eno teu – Sane Bunten Lele Bunten nesu teu Sane Bunten Lele
Bunten.
Leolkan
fanit neuba tubu-mnanu oke mnanu Timau ma faumes Nonem Bi-noni on petah Bi-Noni
kusem Bi-Noni te esnan.
Laka
tenit neuba tubu-mnanu oke-mnanu Mollo ma sesnup Poelnim Ajaopenu, Ipsam Kokla
Nanjafam Naususu, Fua ma bunbun hu'e ampupu eukinim-tefkini : sah – nam
bikekneno Mutis ma babnai paeneno ma Oenam, Poenam Tulfufu Tabunam Noemuti
Batan Bisunimnasi, Koki ma benbesi, Leomnam ma Nu'naunu Salu ma Meomafo, Bunu-
ma Memata Ebnam Naenmt an, Saenamam Kuafenu Soni ma Susbi'an.
Se'an
tenit natet Kabuksala Snaemnanu Loilkase Mataunome Sabu ma Oekusi, Sis-aula
Taemnanu Kolboki Bastia Humusu ma Fau-na, To'am Foitlelo Faifnesu ma Boik-boik,
Fainan Maubesi Nekim Neofaun.
Te
nanet nak on pahe usan te esnan, pahe tnanan te esnan Eno-tnanan Liurai ma
sonbai te esnan. Lo nahakeb ni nua esna : teket nak Ni Liurai Ni Sonbai.
Demikian
nama-nama tempat yang menurut almarhum Tua Sonbai ditinjau dan diamati oleh
para kelompok peninjau yang diutusnya. Bagaimana hasil peninjauan dari
kelompok-kelompok peninjau itu, yang telah dikirimkan oleh leluhur Sonbai yang
bernama Nai Laban (Dawan) dari Biudukfoho akan diuraikan berikut ini :
LAPORAN
HASIL PENINJAUAN
Telah
diuraikan diatas bahwa Nai Laban (Nai Dawan) menugaskan beberapa kelompok
pengiringnya dari Biudukfoho untuk meninjau seluruh daerah pegunungan, sampai
ke ufuk barat pulau Timor, kemudian kembali melaporkan mengenai keadaan wilayah
peninjauanya. Para peninjau terdiri dari enam kelompok, tiap kelompok dipimpin
oleh :
1. Selan
Balia (Seran Baria) untuk wilayah Amanatun
2. Balia
Nahak (Baria Nahak) untuk wilayah Amanuban
3. Selan
Leki (Seran Leki) untuk wilayah Fatule'u
4. Selan
Fahik (Seran Fahik) untuk wilayah ufuk Barat
5. Atok
Fahik untuk wilayah Mollo dan Amfo'an
6. Fahik
Balia (Fahik Baria) untuk wilayah Meomafo, Insana, Biboki dan Ambenu.
Dari beberapa kelompok diatas dapat
dikisahkan bahwa sebelum mereka berangkat dipersoalkan mengenai apa yang akan
dimakan selama melakukan peninjauan. Dijelaskan oleh Nai Laban bahwa Ia diutus
untuk menguasai wilayah pegunungan. Oleh karena itu bilamana mereka mengalami
kekurangan bahan pangan, buatkanlah sebuah metsbah (baki-tola), kemudian
sebutkanlah namanya, maka burung-burung di hutan pun dipanggil akan menyahut
dan datang pula.
Dengan berpegang pada pesanan dan amanat
Nai Laban itu kelompok-kelompok peninjau mulai melakukan tugasnya pada wilayah
masing-masing. Peninjau itu dikatakan memakan waktu karena kondisi alam yang
masih buas.
Hasil yang dilaporkan oleh para kelompok
peninjau setelah kembali adalah sebagai berikut :
a.
Laporan Tentang Amanatun
Dikatakan
bahwa wilayahnya berbukit-bukit, berlekak-lekuk dan curam. Penduduknya sedikit,
tinggal berkelompok, mengembara dan meramu hasil hutan dan juga di
puncak-puncak bukit banyak terdapat pula kayu cendana.
b.
Laporan Tentang Amanuban
Wilayah
Amanuban sangat kecil sekali sedangkan bagian terbesar didiami oleh rakyat dari
Tkesnai. Merekapun tinggal secara berkelompok dan tersebar di bukit-bukit.
Makanan mereka adalah ubi-ubian, keladi dan berburu binatang hutan serta
mencari madu di pohon-pohon dan batu-batu. Hutannya sangat lebat di bagian
pantai selatan terdiri dari gewang, lontar, asam dan pohon dilak : banyah juga
terdapat buaya, rusa dan babi hutan.
c.
Laporan Tentang Fatule'u
Wilayah
Fatule'u banyak ditumbuhi bambu-bambu hutan, pohon pinang, kayu putih dan
cendana. Hutannya sangat lebat dan mereka tidak pernah menemukan penduduk
disana. Banyak terdapat rusa, babi hutan, ayam hutan, lebah dan
binatang-binatang lainnya.
d.
Laporan Tentang Ufuk Barat
Keadaan
wilayahnya terdiri dari dataran rendah yang banyak ditumbuhi gewang dan lontar datarannya
banyak berawah-rawah. Di ufuk barat banyak ditumbuhi pohon-pohon asam dilak
serta berbatu karang. Untuk memasukinya sangat sulit karena alang-langnya
sangat tebal. Penduduk tidak ditemukan di tempat ini.
e.
Laporan Tentang Mollo Dan Amfoa'an
Penduduknya
baru berjumlah sedikit dan berdiam di puncak gunung – gunung yang tinggi. Semua
sungai berhulu di kaki gunung yang tinggi (Mutis) serta banyak ditumbuhi pohon
ampupu, kayu putih dan kasuari. Makanan penduduk yang ada adalah ubi hutan,
keladi hutan, buah serikaya, mencari madu di pohon-pohon, batu-batu serta
berburu binatang hutan. Di bagian barat tidak terdapat penduduk disana, banyak
ditumbuhi bambu hutan, serta banyak rusa, babi hutan dan kera. Hutannya sangat
lebat dan sulit untuk dimasuki karena alang-alangnya sangat lebat pula.
f.
Laporan Tentang Meomafo, Insana, Biboki
dan Oekusi
Datarannya
cukup luas dan ditumbuhi alang-alang yang sangat tinggi. Penduduknya sedikit
dan mereka adalah orang Molus (Melus), Tkesnai dan sering terjadi saling
menyerang antara kedua suku bangsa itu. Hidupnya mengembara, makan ubi hutan,
keladi hutan, berburu dan mencari madu di hutan. Wilayah itu banyak ditumbuhi
cendana, kayu putih, lontar, gewang, pohon asam dan dilak.
Dari
laporan hasil peninjau diatas Nai Laban telah mendapat gambaran tentang situasi
dan kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Disamping itu Ia dapat mengatur
langkah perjalanannya lebih lanjut, untuk mewujudkan tujuan penugasannya untuk
menguasai hulu sungai benenain.
Demikianlah
kisah yang pernah dituturkan almarhum Tua Sonbai, Raja kerajaan Mollo ini.
Ditambahkan bahwa Nai Laban kemudian berpindah ke Noel Bi-Lomi. Di tempat itu
Nai Laban bermukim untuk beberapa tahun lamanya. Dan di tempat itu pula Nai
Laban pernah bermusyawarah dengan kakaknya Liurai Wehali, untuk menguasai
wilayah-wilayah pegunungan yang telah ditinjaunya. Karena itu sungai dimana
mereka bermusyawarah disebut Noel Bi-Lomi, asalnya dari kata malomi atau
makalomi artinya bermusyawarah.
Namun
tidak dapat disangka, bahwa tiada beberapa lama Nai Laban bermukim di Noel Bi
Lomi Ia meninggal bersama isterinya yang bernama Bi Mako dan dimakamkan bersama
di tempat itu. Mereka meninggalkan seorang putera yang bernama Nai Natti, yang
juga telah dewasa. Nai Natti kemudian kembali ke besikama lalu beristeri
disana. Nama-nama isteri Nai Natti adalah Bi Kesi. Kemudian Nai Natti kembali
lalu berpindah ke Humusu dan dengan para pengiringnya bermukim di humusu.
Selama
berada di humusu, Nai Natti hanya bisa berusaha untuk menguasai penduduk yang
mendiami wilayah itu secara tidak menetap. Menurut kisahnya bahwa penduduk yang
berdiam disitu terdiri dari orang-orang molus (melus) yang bertubuh pendek, berkulit
hitam dan berambut keriting. Mereka sering kali berperang dengan orang-orang
Tkesnai, yang juga berdiam secara berkelompok di wilayah humusu (Insana).
Alat-alat perang mereka adalah lembing, tombak kayu, panah dan saling melempar
dengan batu atau ali-ali. Tempat tinggal mereka di gua-gua bitauni dan
sekitarnya.
Nai
Natti akhirnya meninggal bersama isterinya di humusu dan dimakamkan disana.
Makam dari Nai Laban bersama isterinya di Noel Bi Lomi dan makam Nai Natti
bersama isterinya di humusu tidak diketahui persis dimana letaknya.
Pada
waktu Nai Natti bersama isterinya meninggal mereka meninggalkan pula seorang
putera yang bernama Nai Faluk. Menurut tuturan dari Nai Balo Kune kepada Dr.
Middelkoop disebut Nai Falukis Belus. Sebelum Nai Natti meninggal Ia
meninggalkan amanat yang harus dipenuhinya yaitu harus melanjutkan perjalanan
ayahnya untuk menguasai wilayah pegunungan dimana sungai benain berhulu. Ketika
Nai Natti bersama isterinya meninggal Nai Faluk masih remaja. Berita
meninggalnya disampaikan kepada kakaknya Liurai Wehali. Oleh karena itu Liurai
Wehali menugaskan Fahik Bere dan Ifo Bere (Nai Bele dan Iof Bele) dari Lasaen
menyusul dan tinggal bersama Nai Faluk di humusu.
Mereka
datang bersama sejumlah pengiring, dengan membawa ternaknya pula. Nai Faluk
sebagai putera turunan pahlawan jiwa kepahlawanan tetap melekat dalam hati
sanubarinya. Oleh karena itu, Ia sering kali berkelana kemana-mana.
Dikisahkan
bahwa pada suatu hari, Nai Faluk memberitahukan para pengiringnya bahwa Ia akan
bepergian ke tempat yang jauh. Oleh karena itu Ia memesankan kepada para
pengiringnya untuk tetap menanti di tempat, karena Ia akan segera kembali.
Menurut
tuturan dari Nicodemus Fobia (ayah kandung saya) mafefa raja Mollo, bahwa
sewaktu Nai Faluk melakukan perjalanannya ini, Ia mengendarai seekor kuda
tunggang kebesarannya, diberi nama Bilu Oba.
Dalam
perjalanannya Nai Faluk melintasi lorong bukit fafinesu (faifnesu) menuju ke
Tunbaba. Menurut kisah yang dituturkan bahwa bekas kaki kuda Bilu Oba, masih
terdapat diatas sebuah batu di Kobe Faifnesu. Sampai sejauh mana kebenarannya,
belum pernah diadakan penelitian kesana.
Di
Tunbaba Nai Faluk bermukim untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian Ia
melanjutkan perjalanannya melalui Nunpo, Tnais, Nilulat, terus menuju ke panaf Aj
(Ai), koki ma bonbesi, menyeberang sungai Noebesi (Hulu sungai Benanain) dan
tinggal untuk sementara waktu di gunung Poen (Poenam Tulfufu). Dari tempat
tinggal sementara ini, Ia melakukan penyelidikan sekitar wilayah gunung mutis
dan diketahui bahwa telah ada penduduk yang mendahului mendiami gunung
tersebut.
Dalam
perjalanan Nai Faluk dari humusu, Ia membawa serta sebatang tombak, sebilah
pedang dan seluruh perhiasan kebesarannya. Sebagai orang yang berkelana
sebatang kara, bagaimanapun Ia merasa kuatir dan takut. Untuk itulah Ia mulai
mencari daya upaya bagaimana Ia dapat mengabui mata penduduk yang mendahului
dan menguasai mereka. Upaya yang dapat dipikirkan adalah membuat api unggun
diatas gunung Foen, sehingga asapnya berkepul ke langit. Pada zaman dahulu,
apabila orang membuat api unggun dan asapnya berkepul ke langit, itu berarti Ia
telah menguasai wilayah itu. Dalam ungkapan bahasa dawan disebut antiup no'am
nafu ai(aj). Sesudah Ia membuat api unggun, Ia menghitamkan seluruh tubuhnya
dengan jelaga, termasuk seluruh perhiasan kebesarannya. Maksudnya untuk
menyesuaikan keadaan kulit tubuhnya dengan penduduk yang telah ada, karena
mereka berkulit hitam, sedang Ia berkulit sawo matang.
Kemudian
Nai Faluk melanjutkan perjalanannya melalui pauk-fuinu, melintasi sungai Takaeb
(Noel Takaeb) yaitu tempat bermukim dari marga Takaeb pada mulanya. Dari sana
Ia menuju ke sebelah selatan dan tiba pada suatu bukit batu. Di bawah bukit
batu itu Ia menemukan suatu sumber air dan beristirahat disitu untuk makan
minum, karena Ia merasa lapar dan haus. Setelah makan dan minum Ia tertidur di
bawah bukit batu tersebut. Pada saat tertidur Ia bermimpi bahwa seorang datang
menemuinya dan berkata kepadanya : engkau akan menjadi penguasa atas wilayah
pegunungan ini : bangunlah dan lanjutkanlah perjalanan ke tepi sungai, karena
disana engkau akan menjumpai orang.
Orang
yang dilihat dalam mimpi itu berpakaian kebesaran dengan bertetakan emas yang
berkilau-kilauan. Ia terbangun dari tidurnya, lalu melanjutkan perjalanannya
sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dalam mimpi. Ia berjalan melalui
Tublopo Fatuhoibeti, terus menuju ke tepi sungai Noebesi. Setelah tiba di Neten
Bi Neno, Ia berbelok menuju suatu tempat yang diperkirakannya ada sumber air
untuk minum karena sudah kehausan. Ia menjumpai dua orang gadis sementara
menimba air disitu. Mata air itu kemudian diketahui namanya Oel afo'an.
Pak bisa minta referensi lengkap terkait Banunaek meminta sebagian Mella untuk membatunya berperang sehingga marganya berganti menjadi Tamelan? Terima kasih
BalasHapusSiapa nama dua gadis tersebut yg ia jumpai di sumber mata air itu?
BalasHapus