HUBUNGAN
SONBAI DAN KUNE – UF
Telah dikemukakan
bahwa setelah Nai Faluk berada di gunung Poen (Poenam Tulfufu), Ia menghitamkan
seluruh tubuh dan perhiasan di badannya
dengan jelaga. Dengan demikian seluruh badannya
yang berhiaskan emas dan muti salakh tidak nampak secara jelas, roman
mukanya pun sangat jelek.
Ketika Ia
berjumpa dengan kedua gadis yang sementara mengambil air, matahari terasa panas
sehingga Ia merasa kehausan. Oleh karena itu Nai Faluk meminta bantuan kepada
dua gadis itu untuk memberikan air kepadanya. Tetapi karena Nai Faluk mukanya
jelek, mereka merasa enggan untuk memberikan air minum kepadanya, walaupun
hanya seteguk saja.
Kedua gadis itu
mengatakan bahwa engkau tidak pantas untuk minum air dengan aur emas ayah kami.
Namun demikian Nai Faluk tetap memohon pengasihan mereka, untuk memberikan air
kendatipun seteguk saja. Nai Faluk mengatakan kalau saya tidak layak untuk
minum air dengan aur emas ayahmu, berikanlah saya dengan daun keladi saja.
Akhirnya mereka
merestui permintaannya, namun gadis yang sulung masih belum bersedia
melayaninya : Ia meminta kepada adiknya untuk membantu memberikan Nai Faluk
air. Adiknya memetik sehelai daun keladi, dilipatnya dengan rapih kemudian
menimba air lalu memberikannya kepada Nai Faluk. Setelah Nai Faluk meminum air
itu sisanya digunakan untuk menyiram badannya yang berkeringat dan penuh dengan
jelaga.
Seluruh badannya
kelihatan bercahaya dan roman mukanya pun tampak sebagai seorang pemuda yang
gagah perkasa. Kedua gadis itupun jatuh cinta kepadanya, nampak jelas dari
roman muka mereka yang kelihatan berseri-seri. Nai Faluk mengetahui bahwa kedua
gadis itu telah jatuh cinta kepadanya. Dengan kata-kata yang sopan Nai Faluk
menanyakan nama dari kedua gadis bersama nama julukannya. Kedua berdiri
tersipu-sipu dan malu memberitahukan namanya. Namun akhirnya masing-masing
memberitahukan namanya yaitu yang sulung bernama Bi Lasa (jasa) Kune dan yang
bungsu bernama Bi Lilo (jili) Kune. Sedang nama julukan mereka adalah Esu
(Eusnoni). Nama ayah mereka adalah Nai Ke Kune, sedangkan ibunya bernama Bi
Anin Alupan (Aluman). Keduanya adalah anak pertama dan anak keempat dari Nai Ke
Kune, sedang anak kedua bernama Bi Funa Kune dan yang ketiga bernama Bi Koti
Kune.
Kemudian Nai
Faluk memperkenalkan namanya kepada mereka berdua dan memberitahukan bahwa Ia
adalah anak turunan raja malaka yang menguasai muara sungai ini.
Oleh karena
mereka berdua jatuh cinta kepada Nai Faluk, maka Nai Faluk ingin menguji sampai
sejauh mana kecintaan mereka kepadanya. Ia memohon bantuan dari ilahi dan arwah
para leluhurnya untuk memberikan petunjuk yang baik kepadanya.
Pertama Ia
menetakan pedangnya pada sebatang pohon lalu memintakan kepada Bi Lasa Kune dan
Bi Lile Kune untuk secara bergiliran mencoba mencabut pedangnya. Yang bisa
mencabut pedang itu lebih dahulu adalah Bi Lasa Kune dan ternyata Ia tidak
dapat mencabutnya. Kemudian menyusul Bi Lile Kune untuk mencoba mencabutnya.
Dengan tidak disangka-sangka Bi Lile Kune mampu mencabut pedang itu dengan
mudah sekali.
Namun Nai Faluk
belum puas dengan ujian pertama ini. Untuk kedua kalinya Ia memancangkan
tombaknya ke tanah, lalu memintakan kedua gadis itu untuk mencabutnya lagi.
Sebagaimana percobaan pertama Bi Lasa Kune yang lebih dahulu mencabutnya, namun
Ia tak mampu mencabutnya. Kemudian Bi Lile Kune mencobanya lagi dan ternyata Ia
dapat mencabutnya untuk yang kedua kalinya. Dengan percobaan yang kedua ini Nai
Faluk telah yakin akan hasilnya mengenai kecintaan penuh dari Bi Lile Kune
terhadapnya.
Nai Faluk
menghadap kedua gadis itu lalu mengatakan : karena Bi Lile Kune yang telah
berhasil mencabut pedang dan tombak saya, maka Ia yang akan menjadi Isteriku.
Oleh karena malunya, maka Bi Lasa Kune, pergi meninggalkan mereka. Setelah Bi
Lasa Kune tiba di rumah ayahnya bertanya kepadanya, dimana adikmu? Ia menjawab
dengan nada suara yang menandakan ada penyesalan : Ia sementara menyusul dari
belakang, dengan seorang asing yang saya juga tidak mengenalnya.
Tiba-tiba Bi
Lile Kune tiba di depan rumahnya dengan menyandang pundi-pundi sirih pinang Nai
Faluk sementara Nai Faluk juga menyusulnya dari belakang. Setibanya Nai Faluk
di depan rumah, Ia segera menyapa Nai Ke Kune yang sementara berada di dalam
rumah dengan mengatakan : Hoi Sa'tabu Tuan, Nai Ke Kune menjawab dari dalam
rumahnya : Tam aum Neno Anan, tam aum Sil Neno artinya silahkan masuk anak
dewata silahkan masuk Sil Neno (Sil Neno adalah nama julukan terhormat bagi
marga Sonbai). Kemudian Nai Faluk dan Bi Lile Kune masuk kerumah Nai Ke Kune.
Dengan serta merta Nai Ke Kune turun dari kursi kebesarannya lalu
mempersilahkan Nai Faluk untuk duduk diatasnya.
Sorry Sir; I am researcher kerajaan2 NTT.DEo you have exact info of funeral Liurai Piet Muti Parera of Malaka?Thank you. My facebook Donald Tick and e-mail kupang1960@gmail.com
BalasHapus