Sabtu, 18 Juni 2016

KEDATANGAN SONBAI KE MUTIS

C. KEDATANGAN SONBAI KE MUTIS
Mengenai kedatangan leluhur Sonbai ke gunung Mutis bukanlah atas kesukaannya sendiri untuk berkelana tetapi diutus oleh kakaknya Liurai Wehali untuk menguasai serta mengamankan wilayah pegunungan, sebagai sumber aliran sungai besar di pulau Timor.
Banyak penulis orang barat yang mengungkapkan tentang kedatangan Sonbai dari wehali (malaka) sebagai penjelajahan sekaligus sampai ke gunung Mutis.
Dr. P. Middelkoop mengutip tuturan dari Balo Kune yang dimuat dalam bukunya berjudul Lets Over Sonbai mengatakan bahwa Sonbai datang dari belu melalui Oeluan (Noemuti) terus ke kumlolo dan menemui Nai Ke Kune di sa'tabu. Namun hal itu tidaklah mungkin, karena situasi dan kondisi pada zaman kedatangan Sonbai ke Mutis belum aman. Dimana-mana masih saja terdapat perang tanding antara kelompok-kelompok suku bangsa sehingga dalam perjalanan penjelajahan wilayah yang harus dikuasainya memakan waktu yang cukup panjang, puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebagai seorang pahlawan, tentu perlu Ia meninjau lebih dahulu kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Pertama kali Ia menanjak dari tempat penghuniannya semula yaitu Besikama dan Ia hanya mampu mencapai dan menguasai wilayah Biudukfoho. Wilayah itu terkenal dalam tuturan almarhum dengan sebutan berangkai Fautbakus Bi uluk Noel Bi Lomi. Yang disebut Fautbakus Bi uluk Noel Bi Lomi sebuah bukit yang pernah ditunjukan oleh almarhum Tua Sonbai ketika sedang membangun lumbung makanan di ladangnya Nonohonis (desa Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan 5 Km dari Soe arah ke Kapan).  Dari bukit itulah leluhurnya meletakan batas wilayah dengan kakaknya Liurai . bila dikutip dari kata-katanya dengan bahasa dawan berbunyi : Bi le a tubu nae in tunan, le hai Uiskoknais-unu nabela nakat nok in tataf Liulai. Dikatakan bahwa diatas bukit Biulukfoho (Biudukfoho) mereka memandang ke seluruh wilayah pegunungan seraya mengatakan : Eut-naijuf ma po'naijuf, eut naimnuke en oenunu Behael an mainua ma namnamben artinya tanah kintal pangeran, tanah padang pangeran yaitu wehali telah luas.
1.      Peninjauan/Pengamatan
Menurut tuturan dari Balo Kune kepada Middelkoop yang dimuat dalam bukunya Lets Over Sonba'i dikatakan bahwa Sonba'i berjalan terus sampai ke kupang tetapi tidak menemui penguasa wilayah ataupun penduduk. Lalu Ia kembali melaporkan kepada kakaknya Liurai Wehali bahwa Ia tidak pernah menemui penguasa wilayah pegunungan (dlm bhs dawan Pahe Nakan) kemuadian Ia disuruh kembali lagi oleh Liurai Wehali untuk mencari penguasa pegunungan (Pahen Nakan) dan apabila telah dijumpainya supaya mengirimkan beritas kepadanya. Sebab utama penugasan Sonbai untuk mencari penguasa wilayah pegunungan dikarenakan mereka tinggal dekat pantai laut sehingga mereka sangat kekurangan air tawar pada musim kemarau. Pada musim kemarau mereka sering kali hanya minum air yang rasanya asin sekali karena semua air tawar telah kering. Oleh karena itu mereka harus menguasai sumber air sungai benenai untuk tidak kekurangan iar di musim kemarau.
Menurut Tua Sonba'i Almarhum bahwa Ia ditugaskan untuk mencari dan menemukan hulu sungai benain untuk mengamankannya, karena kalau tidak demikian, maka keselamatan mereka yang bermukim di muara sungai benain akam mengalami kesulitan dikemudian hari.
Tentang peninjauan atau pengamatan wilayah menurut almarhum Tua Sonbai tidak dilakukannya sendiri melainkan leluhurnya menugaskan para pengiringnya untuk meninjau wilayah pegunungan karena karena leluhurnya seorang bangsawan dan sekaligus berkedudukan sebagai pahlawan. Peninjauan wilayah pegunungan ditugaskan kepada beberapa kelompok peninjau yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok. Nama dari pimpinan masing-masing kelompok itu akan dijelaskan di bawah ini :
Neon unu fai unu, Liulai-le'u, Sonba'i-le'u, Liulai-Sila Sonba'i-Sila, non sin pah ma non sin nifu. Sae nem nako oemataf ma peut-uf, es oehonis-Oenunu, Oetobe ma Maubesi, na ne nak on tufe ba'noni un te esnan, fae ba'noni un te esnan, po naijuf te esnan, eut naijuf te esnan.
Na ait okam na'latnok antein, neuba Fautbakus Bi Uluk Noel Bi Lomi : te nanet na te'pok anbin ma nasnapbok anbin, an ba nok anbin ma an biul nok anbin. Nak on bahan namnamben, bilu namnamben, bahan po'naijuf te esnan bilu po'naijuf te esnan bahan po'naimnuke te esnan, bilu po'Naimnuke te esnan.
An pene matan Neno, human Neno, an latan matan Neno ma human neno, neu ba tua mainuan, tune mainuan, sane mainuan, ma lele mainuan, tubu mnaun ini okem mnaun ini es : Lobus Tubaki Keunam Tosana Nufu ma Taimetan Baboti ma Oenaek, Namkelam Noemuti Fautboke ma Aenma'u, Temnam Konbaki, Kemuni Manenu, pun-am Senpena Loil-am Belo-boton.
Leolkan fanim an bain an fanit nako : Bonem Sambet Boenam Ainan, Lilom Tuaton Ansam Fautfue, Ukbui-am Fautkoto Nasim Oenoah : Sonaf Penkolo Hae-nilulat, Kunu Pansui Buitnam Ansaof, Nun nonim Hasoknobe Mausikum Oel Nai Obas, Kekbanim Maunfui Meo-sine Atbe, Saubnim Noenon Sunu am Ta nuka Taenam Lakusna'o, Lanum Fobesi Linkaki ma Aset.
Lakan tenim man elan tenit nako : Meun-am Oe-un, Hoineno ma Oekam, Bibkon-kono Sahle-le'u Sah-nam Oko Toli ma Saenam, sanum Oelok Ninom Nenoat, Fat ma Tole'u Kenum Fautmatoak, Bensam Oebo' bieka oelai, Putnam Sobo, Tobe ma nauban Sona' Liunesi, Kini –naekam Kini-kliko, Tesi ma Toinheka, lunum simo Lunu Nianam Klone ma Laenpani.
Tek no meset nak tun-aman Fautmean, Laimun ma laimean, Nekin Neofanu, Neofanu Onam.
Tenin-tenit-nako : Faum Fautkopa Kiki ma Bubneo Matliam Bi Keke, Pisnam Laisnon Ailam Neonmat, Tef-tefam Oenai, Oetoli ma Oefatu, Kianam Babuin Putnim Nunpene, ofu Manenu Baki ma Tunis : te nenet baki Nai Sonbai nabelkon esan, tola Nai Sonbai nabelkon esan.
Sanun finit neuba lamu in nanan, nais meni in nanan es : Naem Nailete Kuamukem Bi Ta'e, Taspupu ma Tpuamanu Omem Feu, Kusi ma Tektek no'in Nifu ma Pleo, Tapnam Tuikneno Kele ma ba'namas Niuflo'im Haumahatas, Kitnam Mat molo Kuafenum Fatu-tuta, Nekem Kualin, Kualin ma Kuatae, Toai'm Tuapakau Kokne'em Fatukbubu : te nanet baki Nai Sonbai, tola Nai Sonbai nabelkom esan.
Sanun finit neuba tasi in ninen nifu in ninen, oki tu'an pesen tu'an, tua mnelan tune mnelan es: Bitnam Ajaononi Nolnam Ta'us, Oelamam Oeme Kobom Tuafanu Kati ma Haumeto Tefa ma Sonbaunin, Beno Maiste Bena unmoen, polom Esliu Bonim uptuka, pnitem Elbos Linfahi ma oekonos.
Li'an fanin noebanin fanit nako : Lulfam Batnun Sumnam Niufkusi Sa'Laelam Nifupapan Buniunam Fatutnana, Filim Oebaki Putu Oelhue, Nullem Tenusmala Ailam Neonmat Mnela koto ma Tuafanu.
Tek no meset nak : Bunu Biteno Nenum Banam, Klaban Tainlasi Pillim Tunbesi Pillim Nuntobe Se'se' om ma Sa'sa, Kuku ma Tutasi  Maunam Niki-Niki Lokim Aisbesi Sesna'em Faunan.
Se'an tenim ma nao ntenit, neuba Su tnana auti-tnana es: Lu'um Neofna Sekim Suana'e Keko ma Tiuptunis, Benum Ektob Kona-Menlam Nunu-lete, Snaplobim Hu'he'o Sakalili Met'ana Lilham ma Ponain. Tek no meset nak on : Sonim Bi-Nifu Telo ma Talmanu, Fautle'um Manu – opat.
Se'an tenit neuba Tunbaun ma Nekbaun, Kopnam Olain Lilom Bauknasi Kiututa ma Boinbeti Sub'am Fautfeto Nunhilo –Naomusain ma Tanon nane pahe tu'an te esnan, nifu tu'an te esnan eno teu – Sane Bunten Lele Bunten nesu teu Sane Bunten Lele Bunten.
Leolkan fanit neuba tubu-mnanu oke mnanu Timau ma faumes Nonem Bi-noni on petah Bi-Noni kusem Bi-Noni te esnan.
Laka tenit neuba tubu-mnanu oke-mnanu Mollo ma sesnup Poelnim Ajaopenu, Ipsam Kokla Nanjafam Naususu, Fua ma bunbun hu'e ampupu eukinim-tefkini : sah – nam bikekneno Mutis ma babnai paeneno ma Oenam, Poenam Tulfufu Tabunam Noemuti Batan Bisunimnasi, Koki ma benbesi, Leomnam ma Nu'naunu Salu ma Meomafo, Bunu- ma Memata Ebnam Naenmt an, Saenamam Kuafenu Soni ma Susbi'an.
Se'an tenit natet Kabuksala Snaemnanu Loilkase Mataunome Sabu ma Oekusi, Sis-aula Taemnanu Kolboki Bastia Humusu ma Fau-na, To'am Foitlelo Faifnesu ma Boik-boik, Fainan Maubesi Nekim Neofaun.
Te nanet nak on pahe usan te esnan, pahe tnanan te esnan Eno-tnanan Liurai ma sonbai te esnan. Lo nahakeb ni nua esna : teket nak Ni Liurai Ni Sonbai.
Demikian nama-nama tempat yang menurut almarhum Tua Sonbai ditinjau dan diamati oleh para kelompok peninjau yang diutusnya. Bagaimana hasil peninjauan dari kelompok-kelompok peninjau itu, yang telah dikirimkan oleh leluhur Sonbai yang bernama Nai Laban (Dawan) dari Biudukfoho akan diuraikan berikut ini :
 LAPORAN HASIL PENINJAUAN
Telah diuraikan diatas bahwa Nai Laban (Nai Dawan) menugaskan beberapa kelompok pengiringnya dari Biudukfoho untuk meninjau seluruh daerah pegunungan, sampai ke ufuk barat pulau Timor, kemudian kembali melaporkan mengenai keadaan wilayah peninjauanya. Para peninjau terdiri dari enam kelompok, tiap kelompok dipimpin oleh :
1.      Selan Balia (Seran Baria) untuk wilayah Amanatun
2.      Balia Nahak (Baria Nahak) untuk wilayah Amanuban
3.      Selan Leki (Seran Leki) untuk wilayah Fatule'u
4.      Selan Fahik (Seran Fahik) untuk wilayah ufuk Barat
5.      Atok Fahik untuk wilayah Mollo dan Amfo'an
6.      Fahik Balia (Fahik Baria) untuk wilayah Meomafo, Insana, Biboki dan Ambenu.
Dari beberapa kelompok diatas dapat dikisahkan bahwa sebelum mereka berangkat dipersoalkan mengenai apa yang akan dimakan selama melakukan peninjauan. Dijelaskan oleh Nai Laban bahwa Ia diutus untuk menguasai wilayah pegunungan. Oleh karena itu bilamana mereka mengalami kekurangan bahan pangan, buatkanlah sebuah metsbah (baki-tola), kemudian sebutkanlah namanya, maka burung-burung di hutan pun dipanggil akan menyahut dan datang pula.
Dengan berpegang pada pesanan dan amanat Nai Laban itu kelompok-kelompok peninjau mulai melakukan tugasnya pada wilayah masing-masing. Peninjau itu dikatakan memakan waktu karena kondisi alam yang masih buas.
Hasil yang dilaporkan oleh para kelompok peninjau setelah kembali adalah sebagai berikut :
a.       Laporan Tentang Amanatun
Dikatakan bahwa wilayahnya berbukit-bukit, berlekak-lekuk dan curam. Penduduknya sedikit, tinggal berkelompok, mengembara dan meramu hasil hutan dan juga di puncak-puncak bukit banyak terdapat pula kayu cendana.
b.      Laporan Tentang Amanuban
Wilayah Amanuban sangat kecil sekali sedangkan bagian terbesar didiami oleh rakyat dari Tkesnai. Merekapun tinggal secara berkelompok dan tersebar di bukit-bukit. Makanan mereka adalah ubi-ubian, keladi dan berburu binatang hutan serta mencari madu di pohon-pohon dan batu-batu. Hutannya sangat lebat di bagian pantai selatan terdiri dari gewang, lontar, asam dan pohon dilak : banyah juga terdapat buaya, rusa dan babi hutan.
c.       Laporan Tentang Fatule'u
Wilayah Fatule'u banyak ditumbuhi bambu-bambu hutan, pohon pinang, kayu putih dan cendana. Hutannya sangat lebat dan mereka tidak pernah menemukan penduduk disana. Banyak terdapat rusa, babi hutan, ayam hutan, lebah dan binatang-binatang lainnya.
d.      Laporan Tentang Ufuk Barat
Keadaan wilayahnya terdiri dari dataran rendah yang banyak ditumbuhi gewang dan lontar datarannya banyak berawah-rawah. Di ufuk barat banyak ditumbuhi pohon-pohon asam dilak serta berbatu karang. Untuk memasukinya sangat sulit karena alang-langnya sangat tebal. Penduduk tidak ditemukan di tempat ini.
e.       Laporan Tentang Mollo Dan Amfoa'an
Penduduknya baru berjumlah sedikit dan berdiam di puncak gunung – gunung yang tinggi. Semua sungai berhulu di kaki gunung yang tinggi (Mutis) serta banyak ditumbuhi pohon ampupu, kayu putih dan kasuari. Makanan penduduk yang ada adalah ubi hutan, keladi hutan, buah serikaya, mencari madu di pohon-pohon, batu-batu serta berburu binatang hutan. Di bagian barat tidak terdapat penduduk disana, banyak ditumbuhi bambu hutan, serta banyak rusa, babi hutan dan kera. Hutannya sangat lebat dan sulit untuk dimasuki karena alang-alangnya sangat lebat pula.
f.       Laporan Tentang Meomafo, Insana, Biboki dan Oekusi
Datarannya cukup luas dan ditumbuhi alang-alang yang sangat tinggi. Penduduknya sedikit dan mereka adalah orang Molus (Melus), Tkesnai dan sering terjadi saling menyerang antara kedua suku bangsa itu. Hidupnya mengembara, makan ubi hutan, keladi hutan, berburu dan mencari madu di hutan. Wilayah itu banyak ditumbuhi cendana, kayu putih, lontar, gewang, pohon asam dan dilak.
 Dari laporan hasil peninjau diatas Nai Laban telah mendapat gambaran tentang situasi dan kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Disamping itu Ia dapat mengatur langkah perjalanannya lebih lanjut, untuk mewujudkan tujuan penugasannya untuk menguasai hulu sungai benenain.
Demikianlah kisah yang pernah dituturkan almarhum Tua Sonbai, Raja kerajaan Mollo ini. Ditambahkan bahwa Nai Laban kemudian berpindah ke Noel Bi-Lomi. Di tempat itu Nai Laban bermukim untuk beberapa tahun lamanya. Dan di tempat itu pula Nai Laban pernah bermusyawarah dengan kakaknya Liurai Wehali, untuk menguasai wilayah-wilayah pegunungan yang telah ditinjaunya. Karena itu sungai dimana mereka bermusyawarah disebut Noel Bi-Lomi, asalnya dari kata malomi atau makalomi artinya bermusyawarah.
Namun tidak dapat disangka, bahwa tiada beberapa lama Nai Laban bermukim di Noel Bi Lomi Ia meninggal bersama isterinya yang bernama Bi Mako dan dimakamkan bersama di tempat itu. Mereka meninggalkan seorang putera yang bernama Nai Natti, yang juga telah dewasa. Nai Natti kemudian kembali ke besikama lalu beristeri disana. Nama-nama isteri Nai Natti adalah Bi Kesi. Kemudian Nai Natti kembali lalu berpindah ke Humusu dan dengan para pengiringnya bermukim di humusu.
Selama berada di humusu, Nai Natti hanya bisa berusaha untuk menguasai penduduk yang mendiami wilayah itu secara tidak menetap. Menurut kisahnya bahwa penduduk yang berdiam disitu terdiri dari orang-orang molus (melus) yang bertubuh pendek, berkulit hitam dan berambut keriting. Mereka sering kali berperang dengan orang-orang Tkesnai, yang juga berdiam secara berkelompok di wilayah humusu (Insana). Alat-alat perang mereka adalah lembing, tombak kayu, panah dan saling melempar dengan batu atau ali-ali. Tempat tinggal mereka di gua-gua bitauni dan sekitarnya.
Nai Natti akhirnya meninggal bersama isterinya di humusu dan dimakamkan disana. Makam dari Nai Laban bersama isterinya di Noel Bi Lomi dan makam Nai Natti bersama isterinya di humusu tidak diketahui persis dimana letaknya.
Pada waktu Nai Natti bersama isterinya meninggal mereka meninggalkan pula seorang putera yang bernama Nai Faluk. Menurut tuturan dari Nai Balo Kune kepada Dr. Middelkoop disebut Nai Falukis Belus. Sebelum Nai Natti meninggal Ia meninggalkan amanat yang harus dipenuhinya yaitu harus melanjutkan perjalanan ayahnya untuk menguasai wilayah pegunungan dimana sungai benain berhulu. Ketika Nai Natti bersama isterinya meninggal Nai Faluk masih remaja. Berita meninggalnya disampaikan kepada kakaknya Liurai Wehali. Oleh karena itu Liurai Wehali menugaskan Fahik Bere dan Ifo Bere (Nai Bele dan Iof Bele) dari Lasaen menyusul dan tinggal bersama Nai Faluk di humusu.
Mereka datang bersama sejumlah pengiring, dengan membawa ternaknya pula. Nai Faluk sebagai putera turunan pahlawan jiwa kepahlawanan tetap melekat dalam hati sanubarinya. Oleh karena itu, Ia sering kali berkelana kemana-mana.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari, Nai Faluk memberitahukan para pengiringnya bahwa Ia akan bepergian ke tempat yang jauh. Oleh karena itu Ia memesankan kepada para pengiringnya untuk tetap menanti di tempat, karena Ia akan segera kembali.
Menurut tuturan dari Nicodemus Fobia (ayah kandung saya) mafefa raja Mollo, bahwa sewaktu Nai Faluk melakukan perjalanannya ini, Ia mengendarai seekor kuda tunggang kebesarannya, diberi nama Bilu Oba.
Dalam perjalanannya Nai Faluk melintasi lorong bukit fafinesu (faifnesu) menuju ke Tunbaba. Menurut kisah yang dituturkan bahwa bekas kaki kuda Bilu Oba, masih terdapat diatas sebuah batu di Kobe Faifnesu. Sampai sejauh mana kebenarannya, belum pernah diadakan penelitian kesana.
Di Tunbaba Nai Faluk bermukim untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian Ia melanjutkan perjalanannya melalui Nunpo, Tnais, Nilulat, terus menuju ke panaf Aj (Ai), koki ma bonbesi, menyeberang sungai Noebesi (Hulu sungai Benanain) dan tinggal untuk sementara waktu di gunung Poen (Poenam Tulfufu). Dari tempat tinggal sementara ini, Ia melakukan penyelidikan sekitar wilayah gunung mutis dan diketahui bahwa telah ada penduduk yang mendahului mendiami gunung tersebut.
Dalam perjalanan Nai Faluk dari humusu, Ia membawa serta sebatang tombak, sebilah pedang dan seluruh perhiasan kebesarannya. Sebagai orang yang berkelana sebatang kara, bagaimanapun Ia merasa kuatir dan takut. Untuk itulah Ia mulai mencari daya upaya bagaimana Ia dapat mengabui mata penduduk yang mendahului dan menguasai mereka. Upaya yang dapat dipikirkan adalah membuat api unggun diatas gunung Foen, sehingga asapnya berkepul ke langit. Pada zaman dahulu, apabila orang membuat api unggun dan asapnya berkepul ke langit, itu berarti Ia telah menguasai wilayah itu. Dalam ungkapan bahasa dawan disebut antiup no'am nafu ai(aj). Sesudah Ia membuat api unggun, Ia menghitamkan seluruh tubuhnya dengan jelaga, termasuk seluruh perhiasan kebesarannya. Maksudnya untuk menyesuaikan keadaan kulit tubuhnya dengan penduduk yang telah ada, karena mereka berkulit hitam, sedang Ia berkulit sawo matang.
Kemudian Nai Faluk melanjutkan perjalanannya melalui pauk-fuinu, melintasi sungai Takaeb (Noel Takaeb) yaitu tempat bermukim dari marga Takaeb pada mulanya. Dari sana Ia menuju ke sebelah selatan dan tiba pada suatu bukit batu. Di bawah bukit batu itu Ia menemukan suatu sumber air dan beristirahat disitu untuk makan minum, karena Ia merasa lapar dan haus. Setelah makan dan minum Ia tertidur di bawah bukit batu tersebut. Pada saat tertidur Ia bermimpi bahwa seorang datang menemuinya dan berkata kepadanya : engkau akan menjadi penguasa atas wilayah pegunungan ini : bangunlah dan lanjutkanlah perjalanan ke tepi sungai, karena disana engkau akan menjumpai orang.
Orang yang dilihat dalam mimpi itu berpakaian kebesaran dengan bertetakan emas yang berkilau-kilauan. Ia terbangun dari tidurnya, lalu melanjutkan perjalanannya sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dalam mimpi. Ia berjalan melalui Tublopo Fatuhoibeti, terus menuju ke tepi sungai Noebesi. Setelah tiba di Neten Bi Neno, Ia berbelok menuju suatu tempat yang diperkirakannya ada sumber air untuk minum karena sudah kehausan. Ia menjumpai dua orang gadis sementara menimba air disitu. Mata air itu kemudian diketahui namanya Oel afo'an.

2 komentar:

  1. Pak bisa minta referensi lengkap terkait Banunaek meminta sebagian Mella untuk membatunya berperang sehingga marganya berganti menjadi Tamelan? Terima kasih

    BalasHapus
  2. Siapa nama dua gadis tersebut yg ia jumpai di sumber mata air itu?

    BalasHapus

Terimah kasih telah berkunjung ke blog saya