Sabtu, 18 Juni 2016

HUBUNGAN SONBAI DAN KUNE-UF

HUBUNGAN SONBAI DAN KUNE – UF
Telah dikemukakan bahwa setelah Nai Faluk berada di gunung Poen (Poenam Tulfufu), Ia menghitamkan seluruh  tubuh dan perhiasan di badannya dengan jelaga. Dengan demikian seluruh badannya  yang berhiaskan emas dan muti salakh tidak nampak secara jelas, roman mukanya pun sangat jelek.
Ketika Ia berjumpa dengan kedua gadis yang sementara mengambil air, matahari terasa panas sehingga Ia merasa kehausan. Oleh karena itu Nai Faluk meminta bantuan kepada dua gadis itu untuk memberikan air kepadanya. Tetapi karena Nai Faluk mukanya jelek, mereka merasa enggan untuk memberikan air minum kepadanya, walaupun hanya seteguk saja.
Kedua gadis itu mengatakan bahwa engkau tidak pantas untuk minum air dengan aur emas ayah kami. Namun demikian Nai Faluk tetap memohon pengasihan mereka, untuk memberikan air kendatipun seteguk saja. Nai Faluk mengatakan kalau saya tidak layak untuk minum air dengan aur emas ayahmu, berikanlah saya dengan daun keladi saja.
Akhirnya mereka merestui permintaannya, namun gadis yang sulung masih belum bersedia melayaninya : Ia meminta kepada adiknya untuk membantu memberikan Nai Faluk air. Adiknya memetik sehelai daun keladi, dilipatnya dengan rapih kemudian menimba air lalu memberikannya kepada Nai Faluk. Setelah Nai Faluk meminum air itu sisanya digunakan untuk menyiram badannya yang berkeringat dan penuh dengan jelaga.
Seluruh badannya kelihatan bercahaya dan roman mukanya pun tampak sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa. Kedua gadis itupun jatuh cinta kepadanya, nampak jelas dari roman muka mereka yang kelihatan berseri-seri. Nai Faluk mengetahui bahwa kedua gadis itu telah jatuh cinta kepadanya. Dengan kata-kata yang sopan Nai Faluk menanyakan nama dari kedua gadis bersama nama julukannya. Kedua berdiri tersipu-sipu dan malu memberitahukan namanya. Namun akhirnya masing-masing memberitahukan namanya yaitu yang sulung bernama Bi Lasa (jasa) Kune dan yang bungsu bernama Bi Lilo (jili) Kune. Sedang nama julukan mereka adalah Esu (Eusnoni). Nama ayah mereka adalah Nai Ke Kune, sedangkan ibunya bernama Bi Anin Alupan (Aluman). Keduanya adalah anak pertama dan anak keempat dari Nai Ke Kune, sedang anak kedua bernama Bi Funa Kune dan yang ketiga bernama Bi Koti Kune.
Kemudian Nai Faluk memperkenalkan namanya kepada mereka berdua dan memberitahukan bahwa Ia adalah anak turunan raja malaka yang menguasai muara sungai ini.
Oleh karena mereka berdua jatuh cinta kepada Nai Faluk, maka Nai Faluk ingin menguji sampai sejauh mana kecintaan mereka kepadanya. Ia memohon bantuan dari ilahi dan arwah para leluhurnya untuk memberikan petunjuk yang baik kepadanya.
Pertama Ia menetakan pedangnya pada sebatang pohon lalu memintakan kepada Bi Lasa Kune dan Bi Lile Kune untuk secara bergiliran mencoba mencabut pedangnya. Yang bisa mencabut pedang itu lebih dahulu adalah Bi Lasa Kune dan ternyata Ia tidak dapat mencabutnya. Kemudian menyusul Bi Lile Kune untuk mencoba mencabutnya. Dengan tidak disangka-sangka Bi Lile Kune mampu mencabut pedang itu dengan mudah sekali.
Namun Nai Faluk belum puas dengan ujian pertama ini. Untuk kedua kalinya Ia memancangkan tombaknya ke tanah, lalu memintakan kedua gadis itu untuk mencabutnya lagi. Sebagaimana percobaan pertama Bi Lasa Kune yang lebih dahulu mencabutnya, namun Ia tak mampu mencabutnya. Kemudian Bi Lile Kune mencobanya lagi dan ternyata Ia dapat mencabutnya untuk yang kedua kalinya. Dengan percobaan yang kedua ini Nai Faluk telah yakin akan hasilnya mengenai kecintaan penuh dari Bi Lile Kune terhadapnya.
Nai Faluk menghadap kedua gadis itu lalu mengatakan : karena Bi Lile Kune yang telah berhasil mencabut pedang dan tombak saya, maka Ia yang akan menjadi Isteriku. Oleh karena malunya, maka Bi Lasa Kune, pergi meninggalkan mereka. Setelah Bi Lasa Kune tiba di rumah ayahnya bertanya kepadanya, dimana adikmu? Ia menjawab dengan nada suara yang menandakan ada penyesalan : Ia sementara menyusul dari belakang, dengan seorang asing yang saya juga tidak mengenalnya.
Tiba-tiba Bi Lile Kune tiba di depan rumahnya dengan menyandang pundi-pundi sirih pinang Nai Faluk sementara Nai Faluk juga menyusulnya dari belakang. Setibanya Nai Faluk di depan rumah, Ia segera menyapa Nai Ke Kune yang sementara berada di dalam rumah dengan mengatakan : Hoi Sa'tabu Tuan, Nai Ke Kune menjawab dari dalam rumahnya : Tam aum Neno Anan, tam aum Sil Neno artinya silahkan masuk anak dewata silahkan masuk Sil Neno (Sil Neno adalah nama julukan terhormat bagi marga Sonbai). Kemudian Nai Faluk dan Bi Lile Kune masuk kerumah Nai Ke Kune. Dengan serta merta Nai Ke Kune turun dari kursi kebesarannya lalu mempersilahkan Nai Faluk untuk duduk diatasnya.

1 komentar:

  1. Sorry Sir; I am researcher kerajaan2 NTT.DEo you have exact info of funeral Liurai Piet Muti Parera of Malaka?Thank you. My facebook Donald Tick and e-mail kupang1960@gmail.com

    BalasHapus

Terimah kasih telah berkunjung ke blog saya