Selasa, 21 Juni 2016
BAB I
ASAL – USUL, TIMBULNYA NAMA SONBAI
DAN KEDATANGANNYA KE MUTIS
A. ASAL – USUL
Berbicara mengenai asal – usul marga raja sonbai maka yang akan dibicarakan adalah : mengenai raja sonbai suku bangsa yang mana. Dan kalau berbicara tentang suku bangsa maka ini termasuk dalam bidang studi atau disiplin ilmu antropologi.
Oleh karena itu dalam pembicaraan mengenai hal ini terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai apa yang dibicarakan dalam ilmu atropologi.
Secara sederhana bahwa ilmu antropologi adalah ilmu yang membicarakan tentang suatu kompleks masalah – masalah mengenai makluk manusia anthropos. Secara umum ilmu antropologi dibagi atas antropologi fisik yang meliputi Paleo Antropologi dan Antropologi Fisik dan Antropologi Budaya meliputi : Ethnolinguistik, Prehistori dan Ethnologi.
Paleo antropologi adalah ilmu bahagian yang meneliti ilmu bahagian yang meneliti asal – usul terjadinya perkembangan makluk manusia, dengan mempergunakan sebagai obyek – obyek penelitian fosil – fosil manusia dari zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan – lapisan bumi dan yang harus didapat dari sipenyelidik dengan berbagai metode penggalian.
Antropologi fsik dalam arti khusus sematologi adalah bahagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makluk manusia, dipandang dari sudut ciri – ciri tubuhnya dengan obyek penelitiannya, ciri – ciri tubuh baik yang lahir (fenotipik) seperti warna kulit, bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung tinggi dan bentuk tubuh maupun yang dalam (genotipik) seperti frekuensi golongan darah dan lain sebagainya.
Ethnolinguistik adalah ilmu bahagian yang pada asal mulanya erat berkaitan dengan ilmu antropologi. Obyek penelitiannya yang berupa daftar kata – kata, pelukisan mengenai ciri-ciri dan tata bahasa dari bahasa-bahasa lokal yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi ini, terkumpul bersama-sama dengan bahan tentang unsur-unsur kebudayaan sesuatu bangsa. Dari bahan-bahan itu berkembang bermacam-macam metode analisa bahan dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan.
Prehistori mempelajari sejarah perkembangan dan persebaran kebudayaan-kebudayaan manusia di muka bumi dalam zaman sebelum manusia mengenal tulisan.obyek penelitiannya adalah bekas-bekas kebudayaan yang berupa benda-benda dan alat-alat atau artefak-artefak yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi.
Ethnologi adalah ilmu bahagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai dasar-dasar kebudayaan manusia dengan mempelajari aneka ragam warna kebudayaan, dalam kehidupan masyarakat sebanyak mungkin suku-suku bangsa, yang tersebar di seluruh muka bumi pada zaman sekarang ini.
Menurut Dr. F.J. Ormeling (1955 : 66-67) dalam bukunya The Timor Problem mengemukakan bahwa penyelidikan-penyelidikan antropologi fisik, baru berada pada tingkat atau fase permulaan, penggalian-penggalian archiologi seperti juga studi bahasa-bahasa baru saja dimulai. Dengan demikian jelas bahwa beberapa pengungsian penduduk yang tertua, negrito, melanesia, melayu indonesia, telah meninggalkan tanda-tandanya di pulau ini tetapi para ahli antropologi belum sepakat tentang perbandingan atau kadar sahamnya masing-masing.
Nona W. Keers (1943) berpendapat bahwa ciri-ciri negrito jelas kelihatan pada banyak tempat. Lammers (1948) menganalisa bahan-bahan antropologii fisik oleh Prof. B.A.G Vroklage dari tahun 1936-1938 sebaliknya berpendapat bahwa kelompok negrito itu tidak mungkin pernah menginjakkan kakinya di Timor.
Sedangkan menurut Dr. P Middelkoop dalam bukunya Head Hunting In Timor and its Historical Implication mengatakan bahwa ditinjau dari segi bahasa maka orang helong itu merupakan suku bangsa sendiri. Dengan demikian suku bangsa helong, dawan, kemak, marae dan malaka masing – masing merupakan suku bangsa sendiri karena terdapat perbedaan-perbedaan bahasa. Mungkin diantara bahasa-bahasa daerah itu terdapat kesamaan arti beberapa kata atau tata bahasanya sehingga keseluruhannya dapat dikelompokan dalam satu rumpun bahasa saja tetapi dari segi penggunaan sehari-hari nyata terdapat perbedaan.
Menurut kisah yang dituturkan oleh para juru bicara adat (Mafefa) di Mollo Kabupaten Timor Tengah Selatan bahwa jauh sebelum datangnya bangsa asing ke Timor pulau Timor dihuni oleh suku-suku bangsa asli yang berkulit hitam legam (dalam bahasa dawan disebut metmeni) berambut keriting (nakbus) bentuk tubuhnya pendek dan perut buncit (tuk tuka ma taiponi) duduk bertunduk dan kurang cerdas (tes-tesnam ma nukle'u).
Mereka disebut orang molus (atoin molus) atau orang melus dan yang satu lagi disebut keunjamas atau keunlaban. Yang disebut keunjamas atau keunlaban adalah suku bangsa kenurawan. Dalan syair sejarah yang dituturkan dalam bahasa dawan suku-suku itu disebut met meni Nukle'u, pahbala ma naimna artinya sihitam legam yang kurang cerdas putera – puteri penghuni asli.
Salah satu dari kedua kelompok penghuni asli tersebut dikisahkan terdesak sehingga berlayar menuju ke sebelah utara adalah sebagian suku bangsa molus dan tujuan pelayarannya diperkirakan menuju pulau Alor. Sedangkan yang tinggal adalah keunjamas/keunlaban atau kenurawan dan sisa-sisa suku bangsa molus, yang kemudian sebagiannya beralih ke wilayah likusaen artinya ular piton. Sebagiannya lagi beralih ke bagian barat. Mereka yang tertinggal di pulau Timor dengan kedatangan suku-suku bangsa berikutnya terjadilah asimilasi sehingga teranyam dalam lipatan suku-suku bangsa itu.
Dengan adanya asimilasi antara suku-suku bangsa terdahulu dengan suku-suku bangsa yang datang kemudian menunjukan kenyataan bahwa ada yang berkulit sawo matang dan berambut keriting sebaliknya ada yang berkulit hitam tetapi berambut lurus.
Setelah mengetahui suku-suku bangsa yang menghuni pulau Timor, maka tibalah saatnya untuk mengetahui asal-usul dari marga sonbai.
B. Timbulnya Nama Sonbai
Sejak zaman dahulu suku bangsa dawan atau menurut Ormeling disebut suku bangsa Timor khusus mempunyai dua nama depan yang disebut juga nama panggilan sehari-hari, dan nama marga.
Adat perkawinan suku bangsa dawan adalah patrilineal sedangkan pada suku bangsa malaka atau belu selatan matrilineal. Dengan demikian pada suku bangsa dawan nama marga ayah selamanya menurun untuk anak – anaknya.
Namun demikian, pada kelompok masyarakat tertentu pada suku bangsa dawan, apabila tuntutan adat belum diselesaikan oleh pihak laki-laki maka semua anak yang dilahirkan nama marga yang diturunkan pada anak-anak tersebut bukanlah nama marga ayah melainkan ibunya. Hal ini ditemukan pada kelompok masyarakat di desa Nusa Kecamatan Amanuban Barat Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Asal-usul timbulnya nama marga yang ditemukan pada suku bangsa dawan berbeda-beda. Ada yang timbul karena sifat, perbuatan tingkah laku atau bicara dari leluhurnya dan sebagainya. Sebagai contoh nama marga Oematan, asal usul timbulnya karena leluhur mereka yang menemukan sumber air (Oe artinya air, Matan artinya Mata, sumber). Nama marga mella timbul karena sifat leluhur mereka, pendiam (Mella dari kata mel artinya diam). Sebahagian dari marga mella pernah diminta Banunaek dari Amanatun untuk membantunya dalam perang melawan Tkesnai kemudian berubah nama marganya menjadi Tamelan karena mella menghilangkan cucuran air mata dari Banunaek (Tamelan asalnya dari kata na mella nub).
Nama marga sanam timbul karena leluhur mereka sering kali berbuat salah (san artinya salah). Nama marga Toto timbul karena leluhur mereka menyangkal nama asllinya menurut tuturan dari lasarus Toto temukung besar bosen : Toto asalnya dari kata natotan artinya menyangkal. Nama marga yang asli dari Tato adalah Tkesnai artinya salah satu cabang dari Funai, Nesnai dan sebagainya.
Nama sonbai sebenarnya bukanlah nama marga yang asli karena nama marganya yang asli dianggap tabu untuk dsebut. Oleh karena itu orang sering menyebut nama istananya yaitu sonaf dan ba'i karena bentuk istananya menyerupai perahu atau palungan atau kapal yang ditelungkupkan. Jadi nama istana lama kelamaan berubah menjadi nama marganya yang bersal dari kata-kata sonaf artinya istana, ba'i artinya perahu atau palungan atau kapal. Gabungan dari kedua kata itu menjadi sonafba'i lalu berubah lagi menjadi sonbai sampai dengan sekarang ini. Dari kalangan marga sonba'i ada yang menulis namanya dengan berbagai variasi seperti Sonbai, Sonbay dan Sonbait. Tulisan yang benar menurut sebutannya adalah sonba'i.
Nama marga sonbai timbul pertama kalinya sewaktu leluhur mereka yang bernama Nai Lele Sonbai bertempat tinggal di Bisunimnasi yang menjadi daerah hulu sungai benain (sebutan di belu benenai) di kaki gunung mutis. Leluhur mereka inilah pada mula membangun istananya dengan bentuk atap seperti perahu, atau palungan atau kapal yang tertelungkup, dengan tiang-tiangnya ditanamkan ke tanah.
Menurut I. H. Doko dan A.D.M. Parera bahwa nama marga sonbai digunakan pertama kali pada zaman Nai Tuklua sonbai. Kata sonbai timbul karena kata Sonaf Nai Bei karena Tuklua digelarkan Nai Tabei. Dipihak lain ada yang mengatakan bahwa nama itu timbul dari kata sonaf ba'i.
Menurut tuturan dari Tua Sonba'i almarhum, raja mollo sebenarnya bentuk istananya yang menyerupai perahu atau palungan atau kapal yang tertelungkup itu mengingatkannya tentang tempat bernaung para leluhurnya sewaktu mereka pertama kali tiba di pantai selatan pulau Timor (wetoh maubesi) dari jazirah malaka. Mereka menarik perahu layar mereka ke darat lalu ditelungkupkan, dengan tiang-tiangnya ditanamkan di tanah untuk berlindung di bawahnya.
Sampai saat sekarang ini, di kalangan marga sonbai bila membangun rumah baru selamanya membuat sebuah palungan kecil yang kemudian ditelungkupkan di bubungan rumahnya sebagai tanda peringatan.
Nai Lele Sonbai ini jugalah yang pertama kali mengajar orang-orang untuk berladang dengan menguatkan terasering-terasering dari tanah urukan atau batu bata yang disebut batan, karena itu nama-nama tempat dimana Nai Lele Sonbai bermukim disebut Tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi, di kaki gunung mutis. Karena Ia yang pertama kalinya mengajar orang-orang untuk bercocok tanam, maka rakyatnya memberi nama kepadanya Nai Lele Sonba'i.
Sonba'i adalah pembawa pembaharuan kebudayaan karena Ia yang membangun rumah dalam bentuk modern dengan tiang-tiangnya agak tinggi dari lantai dan atapnya tidak sampai ke tanah. Sedangkan bentuk rumah asli (tradisional) adalah berbentuk kerucut atau atapnya sampai ke lantai dan berpintu satu serta rendah. Di bidang pertanian Ia yang pertama kali mengajar bercocok tanam dan membagikan bibit tanaman di Bisunimnasi. Sebelumnya penduduk hidup mengembara dan meramu makanannya dari hutan. Nai Lele Sonbai yang pertama kali menata rakyatnya untuk bermukim secara menetap. Karena itu maka timbul ungkapan yang berbunyi “Nai Lele Sonbai an lelen in tob ma in tafa, an lelen in uki in tefu, anbi tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi, artinya Nai lele Sonbai menata rakyat dan pengikutnya menanam pisan dan tebu di tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi.
Di wilayah malaka bangsawan tertingginya disapa dengan sebutan maromak oan maka di wilayah dawan khususnya untuk sonbai disapa dengan sebutan Neno – Anan yang kedua kata itu sama-sama berarti anak dewata.
Penggunaan sapaan Neno Anan di wilayah kerajaan Sonbai yaitu kerajaan Oenam (wilayahnya dari Biboki sampai Tarus Kupang) hanya ditujukan kepada marga Sonbai. Sedangkan marga bangsawan lainnya seperti Mnune Manbait, Taiboko-Ebnoni, Kono Oematan, Kune-Tefnay, Mella-Sanam, Ato-Bana, Lake Sanak, Falas-Taolin, Putu-Toenbes, Kenat-Kuluan, Nisnoni-Tapenpah, semuanya disapa dengan sapaan Uis-Pah atau Pah-Tuan.
Suatu kekhususan yang terdapat di Amanuban dan Amanatun, dimana sapaan Neno-Anan dapat saja digunakan secara bebas di kalangan rakyat jelata juga. Penggunaan sapaan Neno-Anan di kalangan rakyat jelata ini, seakan-akan tidak terdapat perbedaan antara pimpinan (raja) dengan rakyatnya. Memang patut ada rasa saling menghormati satu sama lain diantara rakyat namun perlu ada pembedaan sapaan antara pimpinan dengan rakyatnya.
Di daerah belu selatan kabupaten malaka sekarang sebutan jabatan tertinggi untuk penguasa wehali adalah Liurai, maka di wilayah dawan adalah Uis Afinit, Uis-Amnanut, Uis-Atupas. Istilah Liurai berasal dari kata-kata Liu artinya lebih, rai artinya tanah. Jadi Liurai artinya penguasa tanah terlebih, tertinggi, terbesar dan terluas.
Grijzen menterjemahkannya memerintah banyak tanah. Suatu penafsiran yang keliru juga diberikan oleh Middelkoop dalam Trektochten v. Timor groepen maupun dalam bukunya Head Hunting in Timor and Its Historical Implications, dimana dikatakan bahwa gelar dari Sonbai sebelumnya adalah Liurai sama dengan Likurai dan mempunyai hubungan dengan likusaen artinya ular phyton atau ular sawah.
Likurai adalah nama dari suatu tarian di kabupaten Malaka yaitu tarian yang dilakukan pada zaman dahulu apabila mereka (para pahlawan) memperoleh kemenangan dalam suatu perang (H.D.Luan Kepala Kantor Penerangan Kab. TTS). Tarian ini dilakukan mengelilingi tengkorak manusia, yang berhasil dipotong oleh seorang pahlawan dalam perang.
Nama kerajaan Likusaen wi wilayah Timor Timur pada zaman dahulu masa penjajahan Portugis dirubah namanya menjadi Liquisa.
Mengenai istilah usif menurut penafsiran Middelkoop dalam bukunya, Curse-Retribution-Enmity, dikatakan bahwa istilah itu berasal dari bahasa jawa yaitu dari kata “gusti” artinya pangeran. Sedangkan istilah Temuku berasal dari kata Tomenggung. Diperkirakan istilah-istilah ini di bawah masuk ke Timor pada zaman Majapahit. Middelkoop menambahkan bahwa istilah-istilah kesel, kornel (kolnel), Tetor, Koumlol, Tanenti, Kapitan, semuanya berasal dari Portugis.
Menurut A.D.M Parera fetor berasal dari kata Feitor artinya pengurus, manager sedang Drs. H. Ataupah mengatakan, kata itu berasal dari Feto artinya wanita dan dilain kesempatan Ia mengatakan berasal dari kata fetob artinya memberi rakyat kepada raja. Dari kata itu timbul sebutan Uis (Usif) Feto dan Uis (usif) Mone.
Ada baiknya masalah istilah ini ditinggalkan saja untuk kembali pada judulnya. Istilah nama marga Sonbai timbul dari nama istananya maka apakah nama asli yang sebenarnya? Menurut Tua Sonbai sebenarnya mereka tidak memiliki nama marga karena mereka berasal dari Belu Selatan. Oleh karena itu nama leluhurnya hanya satu mulai dari yang pertama sampai ketiga. Leluhur mereka yang datang dari malaka (Belu Selatan) bernama Nai Laban (menurut sebutan di Oenam) atau Nai Dawan (menurut sebutan di Belu). Sebutan suku bangsa belu-malaka terhadap orang di pegunungan dengan dawan sebenarnya berasal dari nama leluhur Sonbai yang pertama yaitu Nai Dawan. Nai Dawan adalah turunan dari raja besar wehali yang berdiam di laran yaitu Maromak Oan. Nai Dawan adalah putera kedua dari Nai Maromak Oan, sedang putera pertama adalah Nai Suli atau Nai Suri, dan putera ketiga bernama Nai Taek.
Menurut Gabriel Asa di Laktutus putera kedua bernama Nai Tabe'i Liurai. Tabe'i Liurai adalah gelaran dari Nai Tuklua Sonbai putera Nai Lele Sonbai yang pertama kali meletakan batas wilayah antara wehali dengan Oenam di Noel Bilomi.
Nai Suri Liurai, kemudian ditugaskan sebagai Liurai di wehali atau dalam rangkaian sebutan wesei-wehali, wetoh maubesi. Nai Dawan Liurai kemudian ditugaskan untuk menguasai wilayah Timor dengan sebutan wilayahnya Mutis Babnai, Paenenom Oenam. Sedang Nai Taek Liurai menguasai Wilayah Timur yang disebut Likusaen atau welaku hahuduk, urubaun weluli.
Menurut tuturan para tua adat di Amanatun dan juga almarhum Benufunit dalam tulisannya berjudul Liurai Sonbai dikatakan bahwa Liurai yang pertama bernama Nai Mean, kedua Nai Bainoni, ketiga Nai Lukneno (Lukneno-Mnuke). Ayah mereka pun bernama Nai Lukneno (Lukneno Mnasi).
Manakah yang benar masih perlu diadakan perbandingan tuturan namun dari mulut Tua Sonbai sebagai tuturan dari Nai Maromak Oan, nama ketiga putera itu adalah sebagaimana disebut diatas. Dibenarkan bahwa sewaktu suku bangsa malaka datang ke belu mereka singgah di pantai Amanatun untuk meninjau keadaan wilayah yang memungkinkan untuk ditempati. Dari sana mereka melanjutkan perjalanannya ke belu selatan (Besikama).
Tua Sonbai Almarhum menjelaskan bahwa Nai Dawan Sangat terkenal sebagai seorang pahlawan yang berani, karena itu Ia ditempatkan di Lasae'n wilayah Besikama. Semula Ia bertempat tinggal di Laran (Lalan) bersama Maromak Oan. Nama besikama menurut Tua Sonbai artinya penguasa senjata. Dalam bahasanya sendiri dikatakan “ana” suni-auni.
Perlu dicatat disini bahwa tuturan Tua Sonbai almarhum disampaikannya dalam beberapa tahap kepada saya, sewaktu masih belajar di SMP PGRI soe (1957) yaitu dua tahun sebelum Ia meninggal yaitu tanggal 12 April 1959 di Fatumnutu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Cerita yang sangat menarik. Saya sangat ingin suatu saat bisa tukar informasi bersama Nai Seran Sombay karena cerita ini ada hubungannya dengan Kerajaan Likosaen di Timor Lorosa'e khususnya kami suku Tetun dan Bunak di wilayah pantai selatan (rai fehan tasi-mane nian)hosi Suai to'o Luka - Wekeke. Terima kasih
BalasHapusKalau Nai Seran Sombay tidak keberatan bisa hubungi saya lewat nomor WA +670 77243454 atau email: malilaka.2000@gmail.com
BalasHapus