Selasa, 21 Juni 2016

BAB I ASAL – USUL, TIMBULNYA NAMA SONBAI DAN KEDATANGANNYA KE MUTIS A. ASAL – USUL Berbicara mengenai asal – usul marga raja sonbai maka yang akan dibicarakan adalah : mengenai raja sonbai suku bangsa yang mana. Dan kalau berbicara tentang suku bangsa maka ini termasuk dalam bidang studi atau disiplin ilmu antropologi. Oleh karena itu dalam pembicaraan mengenai hal ini terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai apa yang dibicarakan dalam ilmu atropologi. Secara sederhana bahwa ilmu antropologi adalah ilmu yang membicarakan tentang suatu kompleks masalah – masalah mengenai makluk manusia anthropos. Secara umum ilmu antropologi dibagi atas antropologi fisik yang meliputi Paleo Antropologi dan Antropologi Fisik dan Antropologi Budaya meliputi : Ethnolinguistik, Prehistori dan Ethnologi. Paleo antropologi adalah ilmu bahagian yang meneliti ilmu bahagian yang meneliti asal – usul terjadinya perkembangan makluk manusia, dengan mempergunakan sebagai obyek – obyek penelitian fosil – fosil manusia dari zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan – lapisan bumi dan yang harus didapat dari sipenyelidik dengan berbagai metode penggalian. Antropologi fsik dalam arti khusus sematologi adalah bahagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makluk manusia, dipandang dari sudut ciri – ciri tubuhnya dengan obyek penelitiannya, ciri – ciri tubuh baik yang lahir (fenotipik) seperti warna kulit, bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung tinggi dan bentuk tubuh maupun yang dalam (genotipik) seperti frekuensi golongan darah dan lain sebagainya. Ethnolinguistik adalah ilmu bahagian yang pada asal mulanya erat berkaitan dengan ilmu antropologi. Obyek penelitiannya yang berupa daftar kata – kata, pelukisan mengenai ciri-ciri dan tata bahasa dari bahasa-bahasa lokal yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi ini, terkumpul bersama-sama dengan bahan tentang unsur-unsur kebudayaan sesuatu bangsa. Dari bahan-bahan itu berkembang bermacam-macam metode analisa bahan dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan. Prehistori mempelajari sejarah perkembangan dan persebaran kebudayaan-kebudayaan manusia di muka bumi dalam zaman sebelum manusia mengenal tulisan.obyek penelitiannya adalah bekas-bekas kebudayaan yang berupa benda-benda dan alat-alat atau artefak-artefak yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi. Ethnologi adalah ilmu bahagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai dasar-dasar kebudayaan manusia dengan mempelajari aneka ragam warna kebudayaan, dalam kehidupan masyarakat sebanyak mungkin suku-suku bangsa, yang tersebar di seluruh muka bumi pada zaman sekarang ini. Menurut Dr. F.J. Ormeling (1955 : 66-67) dalam bukunya The Timor Problem mengemukakan bahwa penyelidikan-penyelidikan antropologi fisik, baru berada pada tingkat atau fase permulaan, penggalian-penggalian archiologi seperti juga studi bahasa-bahasa baru saja dimulai. Dengan demikian jelas bahwa beberapa pengungsian penduduk yang tertua, negrito, melanesia, melayu indonesia, telah meninggalkan tanda-tandanya di pulau ini tetapi para ahli antropologi belum sepakat tentang perbandingan atau kadar sahamnya masing-masing. Nona W. Keers (1943) berpendapat bahwa ciri-ciri negrito jelas kelihatan pada banyak tempat. Lammers (1948) menganalisa bahan-bahan antropologii fisik oleh Prof. B.A.G Vroklage dari tahun 1936-1938 sebaliknya berpendapat bahwa kelompok negrito itu tidak mungkin pernah menginjakkan kakinya di Timor. Sedangkan menurut Dr. P Middelkoop dalam bukunya Head Hunting In Timor and its Historical Implication mengatakan bahwa ditinjau dari segi bahasa maka orang helong itu merupakan suku bangsa sendiri. Dengan demikian suku bangsa helong, dawan, kemak, marae dan malaka masing – masing merupakan suku bangsa sendiri karena terdapat perbedaan-perbedaan bahasa. Mungkin diantara bahasa-bahasa daerah itu terdapat kesamaan arti beberapa kata atau tata bahasanya sehingga keseluruhannya dapat dikelompokan dalam satu rumpun bahasa saja tetapi dari segi penggunaan sehari-hari nyata terdapat perbedaan. Menurut kisah yang dituturkan oleh para juru bicara adat (Mafefa) di Mollo Kabupaten Timor Tengah Selatan bahwa jauh sebelum datangnya bangsa asing ke Timor pulau Timor dihuni oleh suku-suku bangsa asli yang berkulit hitam legam (dalam bahasa dawan disebut metmeni) berambut keriting (nakbus) bentuk tubuhnya pendek dan perut buncit (tuk tuka ma taiponi) duduk bertunduk dan kurang cerdas (tes-tesnam ma nukle'u). Mereka disebut orang molus (atoin molus) atau orang melus dan yang satu lagi disebut keunjamas atau keunlaban. Yang disebut keunjamas atau keunlaban adalah suku bangsa kenurawan. Dalan syair sejarah yang dituturkan dalam bahasa dawan suku-suku itu disebut met meni Nukle'u, pahbala ma naimna artinya sihitam legam yang kurang cerdas putera – puteri penghuni asli. Salah satu dari kedua kelompok penghuni asli tersebut dikisahkan terdesak sehingga berlayar menuju ke sebelah utara adalah sebagian suku bangsa molus dan tujuan pelayarannya diperkirakan menuju pulau Alor. Sedangkan yang tinggal adalah keunjamas/keunlaban atau kenurawan dan sisa-sisa suku bangsa molus, yang kemudian sebagiannya beralih ke wilayah likusaen artinya ular piton. Sebagiannya lagi beralih ke bagian barat. Mereka yang tertinggal di pulau Timor dengan kedatangan suku-suku bangsa berikutnya terjadilah asimilasi sehingga teranyam dalam lipatan suku-suku bangsa itu. Dengan adanya asimilasi antara suku-suku bangsa terdahulu dengan suku-suku bangsa yang datang kemudian menunjukan kenyataan bahwa ada yang berkulit sawo matang dan berambut keriting sebaliknya ada yang berkulit hitam tetapi berambut lurus. Setelah mengetahui suku-suku bangsa yang menghuni pulau Timor, maka tibalah saatnya untuk mengetahui asal-usul dari marga sonbai. B. Timbulnya Nama Sonbai Sejak zaman dahulu suku bangsa dawan atau menurut Ormeling disebut suku bangsa Timor khusus mempunyai dua nama depan yang disebut juga nama panggilan sehari-hari, dan nama marga. Adat perkawinan suku bangsa dawan adalah patrilineal sedangkan pada suku bangsa malaka atau belu selatan matrilineal. Dengan demikian pada suku bangsa dawan nama marga ayah selamanya menurun untuk anak – anaknya. Namun demikian, pada kelompok masyarakat tertentu pada suku bangsa dawan, apabila tuntutan adat belum diselesaikan oleh pihak laki-laki maka semua anak yang dilahirkan nama marga yang diturunkan pada anak-anak tersebut bukanlah nama marga ayah melainkan ibunya. Hal ini ditemukan pada kelompok masyarakat di desa Nusa Kecamatan Amanuban Barat Kabupaten Timor Tengah Selatan. Asal-usul timbulnya nama marga yang ditemukan pada suku bangsa dawan berbeda-beda. Ada yang timbul karena sifat, perbuatan tingkah laku atau bicara dari leluhurnya dan sebagainya. Sebagai contoh nama marga Oematan, asal usul timbulnya karena leluhur mereka yang menemukan sumber air (Oe artinya air, Matan artinya Mata, sumber). Nama marga mella timbul karena sifat leluhur mereka, pendiam (Mella dari kata mel artinya diam). Sebahagian dari marga mella pernah diminta Banunaek dari Amanatun untuk membantunya dalam perang melawan Tkesnai kemudian berubah nama marganya menjadi Tamelan karena mella menghilangkan cucuran air mata dari Banunaek (Tamelan asalnya dari kata na mella nub). Nama marga sanam timbul karena leluhur mereka sering kali berbuat salah (san artinya salah). Nama marga Toto timbul karena leluhur mereka menyangkal nama asllinya menurut tuturan dari lasarus Toto temukung besar bosen : Toto asalnya dari kata natotan artinya menyangkal. Nama marga yang asli dari Tato adalah Tkesnai artinya salah satu cabang dari Funai, Nesnai dan sebagainya. Nama sonbai sebenarnya bukanlah nama marga yang asli karena nama marganya yang asli dianggap tabu untuk dsebut. Oleh karena itu orang sering menyebut nama istananya yaitu sonaf dan ba'i karena bentuk istananya menyerupai perahu atau palungan atau kapal yang ditelungkupkan. Jadi nama istana lama kelamaan berubah menjadi nama marganya yang bersal dari kata-kata sonaf artinya istana, ba'i artinya perahu atau palungan atau kapal. Gabungan dari kedua kata itu menjadi sonafba'i lalu berubah lagi menjadi sonbai sampai dengan sekarang ini. Dari kalangan marga sonba'i ada yang menulis namanya dengan berbagai variasi seperti Sonbai, Sonbay dan Sonbait. Tulisan yang benar menurut sebutannya adalah sonba'i. Nama marga sonbai timbul pertama kalinya sewaktu leluhur mereka yang bernama Nai Lele Sonbai bertempat tinggal di Bisunimnasi yang menjadi daerah hulu sungai benain (sebutan di belu benenai) di kaki gunung mutis. Leluhur mereka inilah pada mula membangun istananya dengan bentuk atap seperti perahu, atau palungan atau kapal yang tertelungkup, dengan tiang-tiangnya ditanamkan ke tanah. Menurut I. H. Doko dan A.D.M. Parera bahwa nama marga sonbai digunakan pertama kali pada zaman Nai Tuklua sonbai. Kata sonbai timbul karena kata Sonaf Nai Bei karena Tuklua digelarkan Nai Tabei. Dipihak lain ada yang mengatakan bahwa nama itu timbul dari kata sonaf ba'i. Menurut tuturan dari Tua Sonba'i almarhum, raja mollo sebenarnya bentuk istananya yang menyerupai perahu atau palungan atau kapal yang tertelungkup itu mengingatkannya tentang tempat bernaung para leluhurnya sewaktu mereka pertama kali tiba di pantai selatan pulau Timor (wetoh maubesi) dari jazirah malaka. Mereka menarik perahu layar mereka ke darat lalu ditelungkupkan, dengan tiang-tiangnya ditanamkan di tanah untuk berlindung di bawahnya. Sampai saat sekarang ini, di kalangan marga sonbai bila membangun rumah baru selamanya membuat sebuah palungan kecil yang kemudian ditelungkupkan di bubungan rumahnya sebagai tanda peringatan. Nai Lele Sonbai ini jugalah yang pertama kali mengajar orang-orang untuk berladang dengan menguatkan terasering-terasering dari tanah urukan atau batu bata yang disebut batan, karena itu nama-nama tempat dimana Nai Lele Sonbai bermukim disebut Tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi, di kaki gunung mutis. Karena Ia yang pertama kalinya mengajar orang-orang untuk bercocok tanam, maka rakyatnya memberi nama kepadanya Nai Lele Sonba'i. Sonba'i adalah pembawa pembaharuan kebudayaan karena Ia yang membangun rumah dalam bentuk modern dengan tiang-tiangnya agak tinggi dari lantai dan atapnya tidak sampai ke tanah. Sedangkan bentuk rumah asli (tradisional) adalah berbentuk kerucut atau atapnya sampai ke lantai dan berpintu satu serta rendah. Di bidang pertanian Ia yang pertama kali mengajar bercocok tanam dan membagikan bibit tanaman di Bisunimnasi. Sebelumnya penduduk hidup mengembara dan meramu makanannya dari hutan. Nai Lele Sonbai yang pertama kali menata rakyatnya untuk bermukim secara menetap. Karena itu maka timbul ungkapan yang berbunyi “Nai Lele Sonbai an lelen in tob ma in tafa, an lelen in uki in tefu, anbi tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi, artinya Nai lele Sonbai menata rakyat dan pengikutnya menanam pisan dan tebu di tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi. Di wilayah malaka bangsawan tertingginya disapa dengan sebutan maromak oan maka di wilayah dawan khususnya untuk sonbai disapa dengan sebutan Neno – Anan yang kedua kata itu sama-sama berarti anak dewata. Penggunaan sapaan Neno Anan di wilayah kerajaan Sonbai yaitu kerajaan Oenam (wilayahnya dari Biboki sampai Tarus Kupang) hanya ditujukan kepada marga Sonbai. Sedangkan marga bangsawan lainnya seperti Mnune Manbait, Taiboko-Ebnoni, Kono Oematan, Kune-Tefnay, Mella-Sanam, Ato-Bana, Lake Sanak, Falas-Taolin, Putu-Toenbes, Kenat-Kuluan, Nisnoni-Tapenpah, semuanya disapa dengan sapaan Uis-Pah atau Pah-Tuan. Suatu kekhususan yang terdapat di Amanuban dan Amanatun, dimana sapaan Neno-Anan dapat saja digunakan secara bebas di kalangan rakyat jelata juga. Penggunaan sapaan Neno-Anan di kalangan rakyat jelata ini, seakan-akan tidak terdapat perbedaan antara pimpinan (raja) dengan rakyatnya. Memang patut ada rasa saling menghormati satu sama lain diantara rakyat namun perlu ada pembedaan sapaan antara pimpinan dengan rakyatnya. Di daerah belu selatan kabupaten malaka sekarang sebutan jabatan tertinggi untuk penguasa wehali adalah Liurai, maka di wilayah dawan adalah Uis Afinit, Uis-Amnanut, Uis-Atupas. Istilah Liurai berasal dari kata-kata Liu artinya lebih, rai artinya tanah. Jadi Liurai artinya penguasa tanah terlebih, tertinggi, terbesar dan terluas. Grijzen menterjemahkannya memerintah banyak tanah. Suatu penafsiran yang keliru juga diberikan oleh Middelkoop dalam Trektochten v. Timor groepen maupun dalam bukunya Head Hunting in Timor and Its Historical Implications, dimana dikatakan bahwa gelar dari Sonbai sebelumnya adalah Liurai sama dengan Likurai dan mempunyai hubungan dengan likusaen artinya ular phyton atau ular sawah. Likurai adalah nama dari suatu tarian di kabupaten Malaka yaitu tarian yang dilakukan pada zaman dahulu apabila mereka (para pahlawan) memperoleh kemenangan dalam suatu perang (H.D.Luan Kepala Kantor Penerangan Kab. TTS). Tarian ini dilakukan mengelilingi tengkorak manusia, yang berhasil dipotong oleh seorang pahlawan dalam perang. Nama kerajaan Likusaen wi wilayah Timor Timur pada zaman dahulu masa penjajahan Portugis dirubah namanya menjadi Liquisa. Mengenai istilah usif menurut penafsiran Middelkoop dalam bukunya, Curse-Retribution-Enmity, dikatakan bahwa istilah itu berasal dari bahasa jawa yaitu dari kata “gusti” artinya pangeran. Sedangkan istilah Temuku berasal dari kata Tomenggung. Diperkirakan istilah-istilah ini di bawah masuk ke Timor pada zaman Majapahit. Middelkoop menambahkan bahwa istilah-istilah kesel, kornel (kolnel), Tetor, Koumlol, Tanenti, Kapitan, semuanya berasal dari Portugis. Menurut A.D.M Parera fetor berasal dari kata Feitor artinya pengurus, manager sedang Drs. H. Ataupah mengatakan, kata itu berasal dari Feto artinya wanita dan dilain kesempatan Ia mengatakan berasal dari kata fetob artinya memberi rakyat kepada raja. Dari kata itu timbul sebutan Uis (Usif) Feto dan Uis (usif) Mone. Ada baiknya masalah istilah ini ditinggalkan saja untuk kembali pada judulnya. Istilah nama marga Sonbai timbul dari nama istananya maka apakah nama asli yang sebenarnya? Menurut Tua Sonbai sebenarnya mereka tidak memiliki nama marga karena mereka berasal dari Belu Selatan. Oleh karena itu nama leluhurnya hanya satu mulai dari yang pertama sampai ketiga. Leluhur mereka yang datang dari malaka (Belu Selatan) bernama Nai Laban (menurut sebutan di Oenam) atau Nai Dawan (menurut sebutan di Belu). Sebutan suku bangsa belu-malaka terhadap orang di pegunungan dengan dawan sebenarnya berasal dari nama leluhur Sonbai yang pertama yaitu Nai Dawan. Nai Dawan adalah turunan dari raja besar wehali yang berdiam di laran yaitu Maromak Oan. Nai Dawan adalah putera kedua dari Nai Maromak Oan, sedang putera pertama adalah Nai Suli atau Nai Suri, dan putera ketiga bernama Nai Taek. Menurut Gabriel Asa di Laktutus putera kedua bernama Nai Tabe'i Liurai. Tabe'i Liurai adalah gelaran dari Nai Tuklua Sonbai putera Nai Lele Sonbai yang pertama kali meletakan batas wilayah antara wehali dengan Oenam di Noel Bilomi. Nai Suri Liurai, kemudian ditugaskan sebagai Liurai di wehali atau dalam rangkaian sebutan wesei-wehali, wetoh maubesi. Nai Dawan Liurai kemudian ditugaskan untuk menguasai wilayah Timor dengan sebutan wilayahnya Mutis Babnai, Paenenom Oenam. Sedang Nai Taek Liurai menguasai Wilayah Timur yang disebut Likusaen atau welaku hahuduk, urubaun weluli. Menurut tuturan para tua adat di Amanatun dan juga almarhum Benufunit dalam tulisannya berjudul Liurai Sonbai dikatakan bahwa Liurai yang pertama bernama Nai Mean, kedua Nai Bainoni, ketiga Nai Lukneno (Lukneno-Mnuke). Ayah mereka pun bernama Nai Lukneno (Lukneno Mnasi). Manakah yang benar masih perlu diadakan perbandingan tuturan namun dari mulut Tua Sonbai sebagai tuturan dari Nai Maromak Oan, nama ketiga putera itu adalah sebagaimana disebut diatas. Dibenarkan bahwa sewaktu suku bangsa malaka datang ke belu mereka singgah di pantai Amanatun untuk meninjau keadaan wilayah yang memungkinkan untuk ditempati. Dari sana mereka melanjutkan perjalanannya ke belu selatan (Besikama). Tua Sonbai Almarhum menjelaskan bahwa Nai Dawan Sangat terkenal sebagai seorang pahlawan yang berani, karena itu Ia ditempatkan di Lasae'n wilayah Besikama. Semula Ia bertempat tinggal di Laran (Lalan) bersama Maromak Oan. Nama besikama menurut Tua Sonbai artinya penguasa senjata. Dalam bahasanya sendiri dikatakan “ana” suni-auni. Perlu dicatat disini bahwa tuturan Tua Sonbai almarhum disampaikannya dalam beberapa tahap kepada saya, sewaktu masih belajar di SMP PGRI soe (1957) yaitu dua tahun sebelum Ia meninggal yaitu tanggal 12 April 1959 di Fatumnutu.

Sabtu, 18 Juni 2016

HUBUNGAN SONBAI DAN KUNE-UF

HUBUNGAN SONBAI DAN KUNE – UF
Telah dikemukakan bahwa setelah Nai Faluk berada di gunung Poen (Poenam Tulfufu), Ia menghitamkan seluruh  tubuh dan perhiasan di badannya dengan jelaga. Dengan demikian seluruh badannya  yang berhiaskan emas dan muti salakh tidak nampak secara jelas, roman mukanya pun sangat jelek.
Ketika Ia berjumpa dengan kedua gadis yang sementara mengambil air, matahari terasa panas sehingga Ia merasa kehausan. Oleh karena itu Nai Faluk meminta bantuan kepada dua gadis itu untuk memberikan air kepadanya. Tetapi karena Nai Faluk mukanya jelek, mereka merasa enggan untuk memberikan air minum kepadanya, walaupun hanya seteguk saja.
Kedua gadis itu mengatakan bahwa engkau tidak pantas untuk minum air dengan aur emas ayah kami. Namun demikian Nai Faluk tetap memohon pengasihan mereka, untuk memberikan air kendatipun seteguk saja. Nai Faluk mengatakan kalau saya tidak layak untuk minum air dengan aur emas ayahmu, berikanlah saya dengan daun keladi saja.
Akhirnya mereka merestui permintaannya, namun gadis yang sulung masih belum bersedia melayaninya : Ia meminta kepada adiknya untuk membantu memberikan Nai Faluk air. Adiknya memetik sehelai daun keladi, dilipatnya dengan rapih kemudian menimba air lalu memberikannya kepada Nai Faluk. Setelah Nai Faluk meminum air itu sisanya digunakan untuk menyiram badannya yang berkeringat dan penuh dengan jelaga.
Seluruh badannya kelihatan bercahaya dan roman mukanya pun tampak sebagai seorang pemuda yang gagah perkasa. Kedua gadis itupun jatuh cinta kepadanya, nampak jelas dari roman muka mereka yang kelihatan berseri-seri. Nai Faluk mengetahui bahwa kedua gadis itu telah jatuh cinta kepadanya. Dengan kata-kata yang sopan Nai Faluk menanyakan nama dari kedua gadis bersama nama julukannya. Kedua berdiri tersipu-sipu dan malu memberitahukan namanya. Namun akhirnya masing-masing memberitahukan namanya yaitu yang sulung bernama Bi Lasa (jasa) Kune dan yang bungsu bernama Bi Lilo (jili) Kune. Sedang nama julukan mereka adalah Esu (Eusnoni). Nama ayah mereka adalah Nai Ke Kune, sedangkan ibunya bernama Bi Anin Alupan (Aluman). Keduanya adalah anak pertama dan anak keempat dari Nai Ke Kune, sedang anak kedua bernama Bi Funa Kune dan yang ketiga bernama Bi Koti Kune.
Kemudian Nai Faluk memperkenalkan namanya kepada mereka berdua dan memberitahukan bahwa Ia adalah anak turunan raja malaka yang menguasai muara sungai ini.
Oleh karena mereka berdua jatuh cinta kepada Nai Faluk, maka Nai Faluk ingin menguji sampai sejauh mana kecintaan mereka kepadanya. Ia memohon bantuan dari ilahi dan arwah para leluhurnya untuk memberikan petunjuk yang baik kepadanya.
Pertama Ia menetakan pedangnya pada sebatang pohon lalu memintakan kepada Bi Lasa Kune dan Bi Lile Kune untuk secara bergiliran mencoba mencabut pedangnya. Yang bisa mencabut pedang itu lebih dahulu adalah Bi Lasa Kune dan ternyata Ia tidak dapat mencabutnya. Kemudian menyusul Bi Lile Kune untuk mencoba mencabutnya. Dengan tidak disangka-sangka Bi Lile Kune mampu mencabut pedang itu dengan mudah sekali.
Namun Nai Faluk belum puas dengan ujian pertama ini. Untuk kedua kalinya Ia memancangkan tombaknya ke tanah, lalu memintakan kedua gadis itu untuk mencabutnya lagi. Sebagaimana percobaan pertama Bi Lasa Kune yang lebih dahulu mencabutnya, namun Ia tak mampu mencabutnya. Kemudian Bi Lile Kune mencobanya lagi dan ternyata Ia dapat mencabutnya untuk yang kedua kalinya. Dengan percobaan yang kedua ini Nai Faluk telah yakin akan hasilnya mengenai kecintaan penuh dari Bi Lile Kune terhadapnya.
Nai Faluk menghadap kedua gadis itu lalu mengatakan : karena Bi Lile Kune yang telah berhasil mencabut pedang dan tombak saya, maka Ia yang akan menjadi Isteriku. Oleh karena malunya, maka Bi Lasa Kune, pergi meninggalkan mereka. Setelah Bi Lasa Kune tiba di rumah ayahnya bertanya kepadanya, dimana adikmu? Ia menjawab dengan nada suara yang menandakan ada penyesalan : Ia sementara menyusul dari belakang, dengan seorang asing yang saya juga tidak mengenalnya.
Tiba-tiba Bi Lile Kune tiba di depan rumahnya dengan menyandang pundi-pundi sirih pinang Nai Faluk sementara Nai Faluk juga menyusulnya dari belakang. Setibanya Nai Faluk di depan rumah, Ia segera menyapa Nai Ke Kune yang sementara berada di dalam rumah dengan mengatakan : Hoi Sa'tabu Tuan, Nai Ke Kune menjawab dari dalam rumahnya : Tam aum Neno Anan, tam aum Sil Neno artinya silahkan masuk anak dewata silahkan masuk Sil Neno (Sil Neno adalah nama julukan terhormat bagi marga Sonbai). Kemudian Nai Faluk dan Bi Lile Kune masuk kerumah Nai Ke Kune. Dengan serta merta Nai Ke Kune turun dari kursi kebesarannya lalu mempersilahkan Nai Faluk untuk duduk diatasnya.

KEDATANGAN SONBAI KE MUTIS

C. KEDATANGAN SONBAI KE MUTIS
Mengenai kedatangan leluhur Sonbai ke gunung Mutis bukanlah atas kesukaannya sendiri untuk berkelana tetapi diutus oleh kakaknya Liurai Wehali untuk menguasai serta mengamankan wilayah pegunungan, sebagai sumber aliran sungai besar di pulau Timor.
Banyak penulis orang barat yang mengungkapkan tentang kedatangan Sonbai dari wehali (malaka) sebagai penjelajahan sekaligus sampai ke gunung Mutis.
Dr. P. Middelkoop mengutip tuturan dari Balo Kune yang dimuat dalam bukunya berjudul Lets Over Sonbai mengatakan bahwa Sonbai datang dari belu melalui Oeluan (Noemuti) terus ke kumlolo dan menemui Nai Ke Kune di sa'tabu. Namun hal itu tidaklah mungkin, karena situasi dan kondisi pada zaman kedatangan Sonbai ke Mutis belum aman. Dimana-mana masih saja terdapat perang tanding antara kelompok-kelompok suku bangsa sehingga dalam perjalanan penjelajahan wilayah yang harus dikuasainya memakan waktu yang cukup panjang, puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebagai seorang pahlawan, tentu perlu Ia meninjau lebih dahulu kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Pertama kali Ia menanjak dari tempat penghuniannya semula yaitu Besikama dan Ia hanya mampu mencapai dan menguasai wilayah Biudukfoho. Wilayah itu terkenal dalam tuturan almarhum dengan sebutan berangkai Fautbakus Bi uluk Noel Bi Lomi. Yang disebut Fautbakus Bi uluk Noel Bi Lomi sebuah bukit yang pernah ditunjukan oleh almarhum Tua Sonbai ketika sedang membangun lumbung makanan di ladangnya Nonohonis (desa Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan 5 Km dari Soe arah ke Kapan).  Dari bukit itulah leluhurnya meletakan batas wilayah dengan kakaknya Liurai . bila dikutip dari kata-katanya dengan bahasa dawan berbunyi : Bi le a tubu nae in tunan, le hai Uiskoknais-unu nabela nakat nok in tataf Liulai. Dikatakan bahwa diatas bukit Biulukfoho (Biudukfoho) mereka memandang ke seluruh wilayah pegunungan seraya mengatakan : Eut-naijuf ma po'naijuf, eut naimnuke en oenunu Behael an mainua ma namnamben artinya tanah kintal pangeran, tanah padang pangeran yaitu wehali telah luas.
1.      Peninjauan/Pengamatan
Menurut tuturan dari Balo Kune kepada Middelkoop yang dimuat dalam bukunya Lets Over Sonba'i dikatakan bahwa Sonba'i berjalan terus sampai ke kupang tetapi tidak menemui penguasa wilayah ataupun penduduk. Lalu Ia kembali melaporkan kepada kakaknya Liurai Wehali bahwa Ia tidak pernah menemui penguasa wilayah pegunungan (dlm bhs dawan Pahe Nakan) kemuadian Ia disuruh kembali lagi oleh Liurai Wehali untuk mencari penguasa pegunungan (Pahen Nakan) dan apabila telah dijumpainya supaya mengirimkan beritas kepadanya. Sebab utama penugasan Sonbai untuk mencari penguasa wilayah pegunungan dikarenakan mereka tinggal dekat pantai laut sehingga mereka sangat kekurangan air tawar pada musim kemarau. Pada musim kemarau mereka sering kali hanya minum air yang rasanya asin sekali karena semua air tawar telah kering. Oleh karena itu mereka harus menguasai sumber air sungai benenai untuk tidak kekurangan iar di musim kemarau.
Menurut Tua Sonba'i Almarhum bahwa Ia ditugaskan untuk mencari dan menemukan hulu sungai benain untuk mengamankannya, karena kalau tidak demikian, maka keselamatan mereka yang bermukim di muara sungai benain akam mengalami kesulitan dikemudian hari.
Tentang peninjauan atau pengamatan wilayah menurut almarhum Tua Sonbai tidak dilakukannya sendiri melainkan leluhurnya menugaskan para pengiringnya untuk meninjau wilayah pegunungan karena karena leluhurnya seorang bangsawan dan sekaligus berkedudukan sebagai pahlawan. Peninjauan wilayah pegunungan ditugaskan kepada beberapa kelompok peninjau yang masing-masing dipimpin oleh seorang pemimpin kelompok. Nama dari pimpinan masing-masing kelompok itu akan dijelaskan di bawah ini :
Neon unu fai unu, Liulai-le'u, Sonba'i-le'u, Liulai-Sila Sonba'i-Sila, non sin pah ma non sin nifu. Sae nem nako oemataf ma peut-uf, es oehonis-Oenunu, Oetobe ma Maubesi, na ne nak on tufe ba'noni un te esnan, fae ba'noni un te esnan, po naijuf te esnan, eut naijuf te esnan.
Na ait okam na'latnok antein, neuba Fautbakus Bi Uluk Noel Bi Lomi : te nanet na te'pok anbin ma nasnapbok anbin, an ba nok anbin ma an biul nok anbin. Nak on bahan namnamben, bilu namnamben, bahan po'naijuf te esnan bilu po'naijuf te esnan bahan po'naimnuke te esnan, bilu po'Naimnuke te esnan.
An pene matan Neno, human Neno, an latan matan Neno ma human neno, neu ba tua mainuan, tune mainuan, sane mainuan, ma lele mainuan, tubu mnaun ini okem mnaun ini es : Lobus Tubaki Keunam Tosana Nufu ma Taimetan Baboti ma Oenaek, Namkelam Noemuti Fautboke ma Aenma'u, Temnam Konbaki, Kemuni Manenu, pun-am Senpena Loil-am Belo-boton.
Leolkan fanim an bain an fanit nako : Bonem Sambet Boenam Ainan, Lilom Tuaton Ansam Fautfue, Ukbui-am Fautkoto Nasim Oenoah : Sonaf Penkolo Hae-nilulat, Kunu Pansui Buitnam Ansaof, Nun nonim Hasoknobe Mausikum Oel Nai Obas, Kekbanim Maunfui Meo-sine Atbe, Saubnim Noenon Sunu am Ta nuka Taenam Lakusna'o, Lanum Fobesi Linkaki ma Aset.
Lakan tenim man elan tenit nako : Meun-am Oe-un, Hoineno ma Oekam, Bibkon-kono Sahle-le'u Sah-nam Oko Toli ma Saenam, sanum Oelok Ninom Nenoat, Fat ma Tole'u Kenum Fautmatoak, Bensam Oebo' bieka oelai, Putnam Sobo, Tobe ma nauban Sona' Liunesi, Kini –naekam Kini-kliko, Tesi ma Toinheka, lunum simo Lunu Nianam Klone ma Laenpani.
Tek no meset nak tun-aman Fautmean, Laimun ma laimean, Nekin Neofanu, Neofanu Onam.
Tenin-tenit-nako : Faum Fautkopa Kiki ma Bubneo Matliam Bi Keke, Pisnam Laisnon Ailam Neonmat, Tef-tefam Oenai, Oetoli ma Oefatu, Kianam Babuin Putnim Nunpene, ofu Manenu Baki ma Tunis : te nenet baki Nai Sonbai nabelkon esan, tola Nai Sonbai nabelkon esan.
Sanun finit neuba lamu in nanan, nais meni in nanan es : Naem Nailete Kuamukem Bi Ta'e, Taspupu ma Tpuamanu Omem Feu, Kusi ma Tektek no'in Nifu ma Pleo, Tapnam Tuikneno Kele ma ba'namas Niuflo'im Haumahatas, Kitnam Mat molo Kuafenum Fatu-tuta, Nekem Kualin, Kualin ma Kuatae, Toai'm Tuapakau Kokne'em Fatukbubu : te nanet baki Nai Sonbai, tola Nai Sonbai nabelkom esan.
Sanun finit neuba tasi in ninen nifu in ninen, oki tu'an pesen tu'an, tua mnelan tune mnelan es: Bitnam Ajaononi Nolnam Ta'us, Oelamam Oeme Kobom Tuafanu Kati ma Haumeto Tefa ma Sonbaunin, Beno Maiste Bena unmoen, polom Esliu Bonim uptuka, pnitem Elbos Linfahi ma oekonos.
Li'an fanin noebanin fanit nako : Lulfam Batnun Sumnam Niufkusi Sa'Laelam Nifupapan Buniunam Fatutnana, Filim Oebaki Putu Oelhue, Nullem Tenusmala Ailam Neonmat Mnela koto ma Tuafanu.
Tek no meset nak : Bunu Biteno Nenum Banam, Klaban Tainlasi Pillim Tunbesi Pillim Nuntobe Se'se' om ma Sa'sa, Kuku ma Tutasi  Maunam Niki-Niki Lokim Aisbesi Sesna'em Faunan.
Se'an tenim ma nao ntenit, neuba Su tnana auti-tnana es: Lu'um Neofna Sekim Suana'e Keko ma Tiuptunis, Benum Ektob Kona-Menlam Nunu-lete, Snaplobim Hu'he'o Sakalili Met'ana Lilham ma Ponain. Tek no meset nak on : Sonim Bi-Nifu Telo ma Talmanu, Fautle'um Manu – opat.
Se'an tenit neuba Tunbaun ma Nekbaun, Kopnam Olain Lilom Bauknasi Kiututa ma Boinbeti Sub'am Fautfeto Nunhilo –Naomusain ma Tanon nane pahe tu'an te esnan, nifu tu'an te esnan eno teu – Sane Bunten Lele Bunten nesu teu Sane Bunten Lele Bunten.
Leolkan fanit neuba tubu-mnanu oke mnanu Timau ma faumes Nonem Bi-noni on petah Bi-Noni kusem Bi-Noni te esnan.
Laka tenit neuba tubu-mnanu oke-mnanu Mollo ma sesnup Poelnim Ajaopenu, Ipsam Kokla Nanjafam Naususu, Fua ma bunbun hu'e ampupu eukinim-tefkini : sah – nam bikekneno Mutis ma babnai paeneno ma Oenam, Poenam Tulfufu Tabunam Noemuti Batan Bisunimnasi, Koki ma benbesi, Leomnam ma Nu'naunu Salu ma Meomafo, Bunu- ma Memata Ebnam Naenmt an, Saenamam Kuafenu Soni ma Susbi'an.
Se'an tenit natet Kabuksala Snaemnanu Loilkase Mataunome Sabu ma Oekusi, Sis-aula Taemnanu Kolboki Bastia Humusu ma Fau-na, To'am Foitlelo Faifnesu ma Boik-boik, Fainan Maubesi Nekim Neofaun.
Te nanet nak on pahe usan te esnan, pahe tnanan te esnan Eno-tnanan Liurai ma sonbai te esnan. Lo nahakeb ni nua esna : teket nak Ni Liurai Ni Sonbai.
Demikian nama-nama tempat yang menurut almarhum Tua Sonbai ditinjau dan diamati oleh para kelompok peninjau yang diutusnya. Bagaimana hasil peninjauan dari kelompok-kelompok peninjau itu, yang telah dikirimkan oleh leluhur Sonbai yang bernama Nai Laban (Dawan) dari Biudukfoho akan diuraikan berikut ini :
 LAPORAN HASIL PENINJAUAN
Telah diuraikan diatas bahwa Nai Laban (Nai Dawan) menugaskan beberapa kelompok pengiringnya dari Biudukfoho untuk meninjau seluruh daerah pegunungan, sampai ke ufuk barat pulau Timor, kemudian kembali melaporkan mengenai keadaan wilayah peninjauanya. Para peninjau terdiri dari enam kelompok, tiap kelompok dipimpin oleh :
1.      Selan Balia (Seran Baria) untuk wilayah Amanatun
2.      Balia Nahak (Baria Nahak) untuk wilayah Amanuban
3.      Selan Leki (Seran Leki) untuk wilayah Fatule'u
4.      Selan Fahik (Seran Fahik) untuk wilayah ufuk Barat
5.      Atok Fahik untuk wilayah Mollo dan Amfo'an
6.      Fahik Balia (Fahik Baria) untuk wilayah Meomafo, Insana, Biboki dan Ambenu.
Dari beberapa kelompok diatas dapat dikisahkan bahwa sebelum mereka berangkat dipersoalkan mengenai apa yang akan dimakan selama melakukan peninjauan. Dijelaskan oleh Nai Laban bahwa Ia diutus untuk menguasai wilayah pegunungan. Oleh karena itu bilamana mereka mengalami kekurangan bahan pangan, buatkanlah sebuah metsbah (baki-tola), kemudian sebutkanlah namanya, maka burung-burung di hutan pun dipanggil akan menyahut dan datang pula.
Dengan berpegang pada pesanan dan amanat Nai Laban itu kelompok-kelompok peninjau mulai melakukan tugasnya pada wilayah masing-masing. Peninjau itu dikatakan memakan waktu karena kondisi alam yang masih buas.
Hasil yang dilaporkan oleh para kelompok peninjau setelah kembali adalah sebagai berikut :
a.       Laporan Tentang Amanatun
Dikatakan bahwa wilayahnya berbukit-bukit, berlekak-lekuk dan curam. Penduduknya sedikit, tinggal berkelompok, mengembara dan meramu hasil hutan dan juga di puncak-puncak bukit banyak terdapat pula kayu cendana.
b.      Laporan Tentang Amanuban
Wilayah Amanuban sangat kecil sekali sedangkan bagian terbesar didiami oleh rakyat dari Tkesnai. Merekapun tinggal secara berkelompok dan tersebar di bukit-bukit. Makanan mereka adalah ubi-ubian, keladi dan berburu binatang hutan serta mencari madu di pohon-pohon dan batu-batu. Hutannya sangat lebat di bagian pantai selatan terdiri dari gewang, lontar, asam dan pohon dilak : banyah juga terdapat buaya, rusa dan babi hutan.
c.       Laporan Tentang Fatule'u
Wilayah Fatule'u banyak ditumbuhi bambu-bambu hutan, pohon pinang, kayu putih dan cendana. Hutannya sangat lebat dan mereka tidak pernah menemukan penduduk disana. Banyak terdapat rusa, babi hutan, ayam hutan, lebah dan binatang-binatang lainnya.
d.      Laporan Tentang Ufuk Barat
Keadaan wilayahnya terdiri dari dataran rendah yang banyak ditumbuhi gewang dan lontar datarannya banyak berawah-rawah. Di ufuk barat banyak ditumbuhi pohon-pohon asam dilak serta berbatu karang. Untuk memasukinya sangat sulit karena alang-langnya sangat tebal. Penduduk tidak ditemukan di tempat ini.
e.       Laporan Tentang Mollo Dan Amfoa'an
Penduduknya baru berjumlah sedikit dan berdiam di puncak gunung – gunung yang tinggi. Semua sungai berhulu di kaki gunung yang tinggi (Mutis) serta banyak ditumbuhi pohon ampupu, kayu putih dan kasuari. Makanan penduduk yang ada adalah ubi hutan, keladi hutan, buah serikaya, mencari madu di pohon-pohon, batu-batu serta berburu binatang hutan. Di bagian barat tidak terdapat penduduk disana, banyak ditumbuhi bambu hutan, serta banyak rusa, babi hutan dan kera. Hutannya sangat lebat dan sulit untuk dimasuki karena alang-alangnya sangat lebat pula.
f.       Laporan Tentang Meomafo, Insana, Biboki dan Oekusi
Datarannya cukup luas dan ditumbuhi alang-alang yang sangat tinggi. Penduduknya sedikit dan mereka adalah orang Molus (Melus), Tkesnai dan sering terjadi saling menyerang antara kedua suku bangsa itu. Hidupnya mengembara, makan ubi hutan, keladi hutan, berburu dan mencari madu di hutan. Wilayah itu banyak ditumbuhi cendana, kayu putih, lontar, gewang, pohon asam dan dilak.
 Dari laporan hasil peninjau diatas Nai Laban telah mendapat gambaran tentang situasi dan kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Disamping itu Ia dapat mengatur langkah perjalanannya lebih lanjut, untuk mewujudkan tujuan penugasannya untuk menguasai hulu sungai benenain.
Demikianlah kisah yang pernah dituturkan almarhum Tua Sonbai, Raja kerajaan Mollo ini. Ditambahkan bahwa Nai Laban kemudian berpindah ke Noel Bi-Lomi. Di tempat itu Nai Laban bermukim untuk beberapa tahun lamanya. Dan di tempat itu pula Nai Laban pernah bermusyawarah dengan kakaknya Liurai Wehali, untuk menguasai wilayah-wilayah pegunungan yang telah ditinjaunya. Karena itu sungai dimana mereka bermusyawarah disebut Noel Bi-Lomi, asalnya dari kata malomi atau makalomi artinya bermusyawarah.
Namun tidak dapat disangka, bahwa tiada beberapa lama Nai Laban bermukim di Noel Bi Lomi Ia meninggal bersama isterinya yang bernama Bi Mako dan dimakamkan bersama di tempat itu. Mereka meninggalkan seorang putera yang bernama Nai Natti, yang juga telah dewasa. Nai Natti kemudian kembali ke besikama lalu beristeri disana. Nama-nama isteri Nai Natti adalah Bi Kesi. Kemudian Nai Natti kembali lalu berpindah ke Humusu dan dengan para pengiringnya bermukim di humusu.
Selama berada di humusu, Nai Natti hanya bisa berusaha untuk menguasai penduduk yang mendiami wilayah itu secara tidak menetap. Menurut kisahnya bahwa penduduk yang berdiam disitu terdiri dari orang-orang molus (melus) yang bertubuh pendek, berkulit hitam dan berambut keriting. Mereka sering kali berperang dengan orang-orang Tkesnai, yang juga berdiam secara berkelompok di wilayah humusu (Insana). Alat-alat perang mereka adalah lembing, tombak kayu, panah dan saling melempar dengan batu atau ali-ali. Tempat tinggal mereka di gua-gua bitauni dan sekitarnya.
Nai Natti akhirnya meninggal bersama isterinya di humusu dan dimakamkan disana. Makam dari Nai Laban bersama isterinya di Noel Bi Lomi dan makam Nai Natti bersama isterinya di humusu tidak diketahui persis dimana letaknya.
Pada waktu Nai Natti bersama isterinya meninggal mereka meninggalkan pula seorang putera yang bernama Nai Faluk. Menurut tuturan dari Nai Balo Kune kepada Dr. Middelkoop disebut Nai Falukis Belus. Sebelum Nai Natti meninggal Ia meninggalkan amanat yang harus dipenuhinya yaitu harus melanjutkan perjalanan ayahnya untuk menguasai wilayah pegunungan dimana sungai benain berhulu. Ketika Nai Natti bersama isterinya meninggal Nai Faluk masih remaja. Berita meninggalnya disampaikan kepada kakaknya Liurai Wehali. Oleh karena itu Liurai Wehali menugaskan Fahik Bere dan Ifo Bere (Nai Bele dan Iof Bele) dari Lasaen menyusul dan tinggal bersama Nai Faluk di humusu.
Mereka datang bersama sejumlah pengiring, dengan membawa ternaknya pula. Nai Faluk sebagai putera turunan pahlawan jiwa kepahlawanan tetap melekat dalam hati sanubarinya. Oleh karena itu, Ia sering kali berkelana kemana-mana.
Dikisahkan bahwa pada suatu hari, Nai Faluk memberitahukan para pengiringnya bahwa Ia akan bepergian ke tempat yang jauh. Oleh karena itu Ia memesankan kepada para pengiringnya untuk tetap menanti di tempat, karena Ia akan segera kembali.
Menurut tuturan dari Nicodemus Fobia (ayah kandung saya) mafefa raja Mollo, bahwa sewaktu Nai Faluk melakukan perjalanannya ini, Ia mengendarai seekor kuda tunggang kebesarannya, diberi nama Bilu Oba.
Dalam perjalanannya Nai Faluk melintasi lorong bukit fafinesu (faifnesu) menuju ke Tunbaba. Menurut kisah yang dituturkan bahwa bekas kaki kuda Bilu Oba, masih terdapat diatas sebuah batu di Kobe Faifnesu. Sampai sejauh mana kebenarannya, belum pernah diadakan penelitian kesana.
Di Tunbaba Nai Faluk bermukim untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian Ia melanjutkan perjalanannya melalui Nunpo, Tnais, Nilulat, terus menuju ke panaf Aj (Ai), koki ma bonbesi, menyeberang sungai Noebesi (Hulu sungai Benanain) dan tinggal untuk sementara waktu di gunung Poen (Poenam Tulfufu). Dari tempat tinggal sementara ini, Ia melakukan penyelidikan sekitar wilayah gunung mutis dan diketahui bahwa telah ada penduduk yang mendahului mendiami gunung tersebut.
Dalam perjalanan Nai Faluk dari humusu, Ia membawa serta sebatang tombak, sebilah pedang dan seluruh perhiasan kebesarannya. Sebagai orang yang berkelana sebatang kara, bagaimanapun Ia merasa kuatir dan takut. Untuk itulah Ia mulai mencari daya upaya bagaimana Ia dapat mengabui mata penduduk yang mendahului dan menguasai mereka. Upaya yang dapat dipikirkan adalah membuat api unggun diatas gunung Foen, sehingga asapnya berkepul ke langit. Pada zaman dahulu, apabila orang membuat api unggun dan asapnya berkepul ke langit, itu berarti Ia telah menguasai wilayah itu. Dalam ungkapan bahasa dawan disebut antiup no'am nafu ai(aj). Sesudah Ia membuat api unggun, Ia menghitamkan seluruh tubuhnya dengan jelaga, termasuk seluruh perhiasan kebesarannya. Maksudnya untuk menyesuaikan keadaan kulit tubuhnya dengan penduduk yang telah ada, karena mereka berkulit hitam, sedang Ia berkulit sawo matang.
Kemudian Nai Faluk melanjutkan perjalanannya melalui pauk-fuinu, melintasi sungai Takaeb (Noel Takaeb) yaitu tempat bermukim dari marga Takaeb pada mulanya. Dari sana Ia menuju ke sebelah selatan dan tiba pada suatu bukit batu. Di bawah bukit batu itu Ia menemukan suatu sumber air dan beristirahat disitu untuk makan minum, karena Ia merasa lapar dan haus. Setelah makan dan minum Ia tertidur di bawah bukit batu tersebut. Pada saat tertidur Ia bermimpi bahwa seorang datang menemuinya dan berkata kepadanya : engkau akan menjadi penguasa atas wilayah pegunungan ini : bangunlah dan lanjutkanlah perjalanan ke tepi sungai, karena disana engkau akan menjumpai orang.
Orang yang dilihat dalam mimpi itu berpakaian kebesaran dengan bertetakan emas yang berkilau-kilauan. Ia terbangun dari tidurnya, lalu melanjutkan perjalanannya sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dalam mimpi. Ia berjalan melalui Tublopo Fatuhoibeti, terus menuju ke tepi sungai Noebesi. Setelah tiba di Neten Bi Neno, Ia berbelok menuju suatu tempat yang diperkirakannya ada sumber air untuk minum karena sudah kehausan. Ia menjumpai dua orang gadis sementara menimba air disitu. Mata air itu kemudian diketahui namanya Oel afo'an.