RAI MALAKA
Selasa, 21 Juni 2016
BAB I
ASAL – USUL, TIMBULNYA NAMA SONBAI
DAN KEDATANGANNYA KE MUTIS
A. ASAL – USUL
Berbicara mengenai asal – usul marga raja sonbai maka yang akan dibicarakan adalah : mengenai raja sonbai suku bangsa yang mana. Dan kalau berbicara tentang suku bangsa maka ini termasuk dalam bidang studi atau disiplin ilmu antropologi.
Oleh karena itu dalam pembicaraan mengenai hal ini terlebih dahulu akan dikemukakan mengenai apa yang dibicarakan dalam ilmu atropologi.
Secara sederhana bahwa ilmu antropologi adalah ilmu yang membicarakan tentang suatu kompleks masalah – masalah mengenai makluk manusia anthropos. Secara umum ilmu antropologi dibagi atas antropologi fisik yang meliputi Paleo Antropologi dan Antropologi Fisik dan Antropologi Budaya meliputi : Ethnolinguistik, Prehistori dan Ethnologi.
Paleo antropologi adalah ilmu bahagian yang meneliti ilmu bahagian yang meneliti asal – usul terjadinya perkembangan makluk manusia, dengan mempergunakan sebagai obyek – obyek penelitian fosil – fosil manusia dari zaman dahulu yang tersimpan dalam lapisan – lapisan bumi dan yang harus didapat dari sipenyelidik dengan berbagai metode penggalian.
Antropologi fsik dalam arti khusus sematologi adalah bahagian dari ilmu antropologi yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya aneka warna makluk manusia, dipandang dari sudut ciri – ciri tubuhnya dengan obyek penelitiannya, ciri – ciri tubuh baik yang lahir (fenotipik) seperti warna kulit, bentuk rambut, indeks tengkorak, bentuk muka, warna mata, bentuk hidung tinggi dan bentuk tubuh maupun yang dalam (genotipik) seperti frekuensi golongan darah dan lain sebagainya.
Ethnolinguistik adalah ilmu bahagian yang pada asal mulanya erat berkaitan dengan ilmu antropologi. Obyek penelitiannya yang berupa daftar kata – kata, pelukisan mengenai ciri-ciri dan tata bahasa dari bahasa-bahasa lokal yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi ini, terkumpul bersama-sama dengan bahan tentang unsur-unsur kebudayaan sesuatu bangsa. Dari bahan-bahan itu berkembang bermacam-macam metode analisa bahan dan mencatat bahasa-bahasa yang tidak mengenal tulisan.
Prehistori mempelajari sejarah perkembangan dan persebaran kebudayaan-kebudayaan manusia di muka bumi dalam zaman sebelum manusia mengenal tulisan.obyek penelitiannya adalah bekas-bekas kebudayaan yang berupa benda-benda dan alat-alat atau artefak-artefak yang tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi.
Ethnologi adalah ilmu bahagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai dasar-dasar kebudayaan manusia dengan mempelajari aneka ragam warna kebudayaan, dalam kehidupan masyarakat sebanyak mungkin suku-suku bangsa, yang tersebar di seluruh muka bumi pada zaman sekarang ini.
Menurut Dr. F.J. Ormeling (1955 : 66-67) dalam bukunya The Timor Problem mengemukakan bahwa penyelidikan-penyelidikan antropologi fisik, baru berada pada tingkat atau fase permulaan, penggalian-penggalian archiologi seperti juga studi bahasa-bahasa baru saja dimulai. Dengan demikian jelas bahwa beberapa pengungsian penduduk yang tertua, negrito, melanesia, melayu indonesia, telah meninggalkan tanda-tandanya di pulau ini tetapi para ahli antropologi belum sepakat tentang perbandingan atau kadar sahamnya masing-masing.
Nona W. Keers (1943) berpendapat bahwa ciri-ciri negrito jelas kelihatan pada banyak tempat. Lammers (1948) menganalisa bahan-bahan antropologii fisik oleh Prof. B.A.G Vroklage dari tahun 1936-1938 sebaliknya berpendapat bahwa kelompok negrito itu tidak mungkin pernah menginjakkan kakinya di Timor.
Sedangkan menurut Dr. P Middelkoop dalam bukunya Head Hunting In Timor and its Historical Implication mengatakan bahwa ditinjau dari segi bahasa maka orang helong itu merupakan suku bangsa sendiri. Dengan demikian suku bangsa helong, dawan, kemak, marae dan malaka masing – masing merupakan suku bangsa sendiri karena terdapat perbedaan-perbedaan bahasa. Mungkin diantara bahasa-bahasa daerah itu terdapat kesamaan arti beberapa kata atau tata bahasanya sehingga keseluruhannya dapat dikelompokan dalam satu rumpun bahasa saja tetapi dari segi penggunaan sehari-hari nyata terdapat perbedaan.
Menurut kisah yang dituturkan oleh para juru bicara adat (Mafefa) di Mollo Kabupaten Timor Tengah Selatan bahwa jauh sebelum datangnya bangsa asing ke Timor pulau Timor dihuni oleh suku-suku bangsa asli yang berkulit hitam legam (dalam bahasa dawan disebut metmeni) berambut keriting (nakbus) bentuk tubuhnya pendek dan perut buncit (tuk tuka ma taiponi) duduk bertunduk dan kurang cerdas (tes-tesnam ma nukle'u).
Mereka disebut orang molus (atoin molus) atau orang melus dan yang satu lagi disebut keunjamas atau keunlaban. Yang disebut keunjamas atau keunlaban adalah suku bangsa kenurawan. Dalan syair sejarah yang dituturkan dalam bahasa dawan suku-suku itu disebut met meni Nukle'u, pahbala ma naimna artinya sihitam legam yang kurang cerdas putera – puteri penghuni asli.
Salah satu dari kedua kelompok penghuni asli tersebut dikisahkan terdesak sehingga berlayar menuju ke sebelah utara adalah sebagian suku bangsa molus dan tujuan pelayarannya diperkirakan menuju pulau Alor. Sedangkan yang tinggal adalah keunjamas/keunlaban atau kenurawan dan sisa-sisa suku bangsa molus, yang kemudian sebagiannya beralih ke wilayah likusaen artinya ular piton. Sebagiannya lagi beralih ke bagian barat. Mereka yang tertinggal di pulau Timor dengan kedatangan suku-suku bangsa berikutnya terjadilah asimilasi sehingga teranyam dalam lipatan suku-suku bangsa itu.
Dengan adanya asimilasi antara suku-suku bangsa terdahulu dengan suku-suku bangsa yang datang kemudian menunjukan kenyataan bahwa ada yang berkulit sawo matang dan berambut keriting sebaliknya ada yang berkulit hitam tetapi berambut lurus.
Setelah mengetahui suku-suku bangsa yang menghuni pulau Timor, maka tibalah saatnya untuk mengetahui asal-usul dari marga sonbai.
B. Timbulnya Nama Sonbai
Sejak zaman dahulu suku bangsa dawan atau menurut Ormeling disebut suku bangsa Timor khusus mempunyai dua nama depan yang disebut juga nama panggilan sehari-hari, dan nama marga.
Adat perkawinan suku bangsa dawan adalah patrilineal sedangkan pada suku bangsa malaka atau belu selatan matrilineal. Dengan demikian pada suku bangsa dawan nama marga ayah selamanya menurun untuk anak – anaknya.
Namun demikian, pada kelompok masyarakat tertentu pada suku bangsa dawan, apabila tuntutan adat belum diselesaikan oleh pihak laki-laki maka semua anak yang dilahirkan nama marga yang diturunkan pada anak-anak tersebut bukanlah nama marga ayah melainkan ibunya. Hal ini ditemukan pada kelompok masyarakat di desa Nusa Kecamatan Amanuban Barat Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Asal-usul timbulnya nama marga yang ditemukan pada suku bangsa dawan berbeda-beda. Ada yang timbul karena sifat, perbuatan tingkah laku atau bicara dari leluhurnya dan sebagainya. Sebagai contoh nama marga Oematan, asal usul timbulnya karena leluhur mereka yang menemukan sumber air (Oe artinya air, Matan artinya Mata, sumber). Nama marga mella timbul karena sifat leluhur mereka, pendiam (Mella dari kata mel artinya diam). Sebahagian dari marga mella pernah diminta Banunaek dari Amanatun untuk membantunya dalam perang melawan Tkesnai kemudian berubah nama marganya menjadi Tamelan karena mella menghilangkan cucuran air mata dari Banunaek (Tamelan asalnya dari kata na mella nub).
Nama marga sanam timbul karena leluhur mereka sering kali berbuat salah (san artinya salah). Nama marga Toto timbul karena leluhur mereka menyangkal nama asllinya menurut tuturan dari lasarus Toto temukung besar bosen : Toto asalnya dari kata natotan artinya menyangkal. Nama marga yang asli dari Tato adalah Tkesnai artinya salah satu cabang dari Funai, Nesnai dan sebagainya.
Nama sonbai sebenarnya bukanlah nama marga yang asli karena nama marganya yang asli dianggap tabu untuk dsebut. Oleh karena itu orang sering menyebut nama istananya yaitu sonaf dan ba'i karena bentuk istananya menyerupai perahu atau palungan atau kapal yang ditelungkupkan. Jadi nama istana lama kelamaan berubah menjadi nama marganya yang bersal dari kata-kata sonaf artinya istana, ba'i artinya perahu atau palungan atau kapal. Gabungan dari kedua kata itu menjadi sonafba'i lalu berubah lagi menjadi sonbai sampai dengan sekarang ini. Dari kalangan marga sonba'i ada yang menulis namanya dengan berbagai variasi seperti Sonbai, Sonbay dan Sonbait. Tulisan yang benar menurut sebutannya adalah sonba'i.
Nama marga sonbai timbul pertama kalinya sewaktu leluhur mereka yang bernama Nai Lele Sonbai bertempat tinggal di Bisunimnasi yang menjadi daerah hulu sungai benain (sebutan di belu benenai) di kaki gunung mutis. Leluhur mereka inilah pada mula membangun istananya dengan bentuk atap seperti perahu, atau palungan atau kapal yang tertelungkup, dengan tiang-tiangnya ditanamkan ke tanah.
Menurut I. H. Doko dan A.D.M. Parera bahwa nama marga sonbai digunakan pertama kali pada zaman Nai Tuklua sonbai. Kata sonbai timbul karena kata Sonaf Nai Bei karena Tuklua digelarkan Nai Tabei. Dipihak lain ada yang mengatakan bahwa nama itu timbul dari kata sonaf ba'i.
Menurut tuturan dari Tua Sonba'i almarhum, raja mollo sebenarnya bentuk istananya yang menyerupai perahu atau palungan atau kapal yang tertelungkup itu mengingatkannya tentang tempat bernaung para leluhurnya sewaktu mereka pertama kali tiba di pantai selatan pulau Timor (wetoh maubesi) dari jazirah malaka. Mereka menarik perahu layar mereka ke darat lalu ditelungkupkan, dengan tiang-tiangnya ditanamkan di tanah untuk berlindung di bawahnya.
Sampai saat sekarang ini, di kalangan marga sonbai bila membangun rumah baru selamanya membuat sebuah palungan kecil yang kemudian ditelungkupkan di bubungan rumahnya sebagai tanda peringatan.
Nai Lele Sonbai ini jugalah yang pertama kali mengajar orang-orang untuk berladang dengan menguatkan terasering-terasering dari tanah urukan atau batu bata yang disebut batan, karena itu nama-nama tempat dimana Nai Lele Sonbai bermukim disebut Tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi, di kaki gunung mutis. Karena Ia yang pertama kalinya mengajar orang-orang untuk bercocok tanam, maka rakyatnya memberi nama kepadanya Nai Lele Sonba'i.
Sonba'i adalah pembawa pembaharuan kebudayaan karena Ia yang membangun rumah dalam bentuk modern dengan tiang-tiangnya agak tinggi dari lantai dan atapnya tidak sampai ke tanah. Sedangkan bentuk rumah asli (tradisional) adalah berbentuk kerucut atau atapnya sampai ke lantai dan berpintu satu serta rendah. Di bidang pertanian Ia yang pertama kali mengajar bercocok tanam dan membagikan bibit tanaman di Bisunimnasi. Sebelumnya penduduk hidup mengembara dan meramu makanannya dari hutan. Nai Lele Sonbai yang pertama kali menata rakyatnya untuk bermukim secara menetap. Karena itu maka timbul ungkapan yang berbunyi “Nai Lele Sonbai an lelen in tob ma in tafa, an lelen in uki in tefu, anbi tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi, artinya Nai lele Sonbai menata rakyat dan pengikutnya menanam pisan dan tebu di tabunam Noemuti, Batan Bisunimnasi.
Di wilayah malaka bangsawan tertingginya disapa dengan sebutan maromak oan maka di wilayah dawan khususnya untuk sonbai disapa dengan sebutan Neno – Anan yang kedua kata itu sama-sama berarti anak dewata.
Penggunaan sapaan Neno Anan di wilayah kerajaan Sonbai yaitu kerajaan Oenam (wilayahnya dari Biboki sampai Tarus Kupang) hanya ditujukan kepada marga Sonbai. Sedangkan marga bangsawan lainnya seperti Mnune Manbait, Taiboko-Ebnoni, Kono Oematan, Kune-Tefnay, Mella-Sanam, Ato-Bana, Lake Sanak, Falas-Taolin, Putu-Toenbes, Kenat-Kuluan, Nisnoni-Tapenpah, semuanya disapa dengan sapaan Uis-Pah atau Pah-Tuan.
Suatu kekhususan yang terdapat di Amanuban dan Amanatun, dimana sapaan Neno-Anan dapat saja digunakan secara bebas di kalangan rakyat jelata juga. Penggunaan sapaan Neno-Anan di kalangan rakyat jelata ini, seakan-akan tidak terdapat perbedaan antara pimpinan (raja) dengan rakyatnya. Memang patut ada rasa saling menghormati satu sama lain diantara rakyat namun perlu ada pembedaan sapaan antara pimpinan dengan rakyatnya.
Di daerah belu selatan kabupaten malaka sekarang sebutan jabatan tertinggi untuk penguasa wehali adalah Liurai, maka di wilayah dawan adalah Uis Afinit, Uis-Amnanut, Uis-Atupas. Istilah Liurai berasal dari kata-kata Liu artinya lebih, rai artinya tanah. Jadi Liurai artinya penguasa tanah terlebih, tertinggi, terbesar dan terluas.
Grijzen menterjemahkannya memerintah banyak tanah. Suatu penafsiran yang keliru juga diberikan oleh Middelkoop dalam Trektochten v. Timor groepen maupun dalam bukunya Head Hunting in Timor and Its Historical Implications, dimana dikatakan bahwa gelar dari Sonbai sebelumnya adalah Liurai sama dengan Likurai dan mempunyai hubungan dengan likusaen artinya ular phyton atau ular sawah.
Likurai adalah nama dari suatu tarian di kabupaten Malaka yaitu tarian yang dilakukan pada zaman dahulu apabila mereka (para pahlawan) memperoleh kemenangan dalam suatu perang (H.D.Luan Kepala Kantor Penerangan Kab. TTS). Tarian ini dilakukan mengelilingi tengkorak manusia, yang berhasil dipotong oleh seorang pahlawan dalam perang.
Nama kerajaan Likusaen wi wilayah Timor Timur pada zaman dahulu masa penjajahan Portugis dirubah namanya menjadi Liquisa.
Mengenai istilah usif menurut penafsiran Middelkoop dalam bukunya, Curse-Retribution-Enmity, dikatakan bahwa istilah itu berasal dari bahasa jawa yaitu dari kata “gusti” artinya pangeran. Sedangkan istilah Temuku berasal dari kata Tomenggung. Diperkirakan istilah-istilah ini di bawah masuk ke Timor pada zaman Majapahit. Middelkoop menambahkan bahwa istilah-istilah kesel, kornel (kolnel), Tetor, Koumlol, Tanenti, Kapitan, semuanya berasal dari Portugis.
Menurut A.D.M Parera fetor berasal dari kata Feitor artinya pengurus, manager sedang Drs. H. Ataupah mengatakan, kata itu berasal dari Feto artinya wanita dan dilain kesempatan Ia mengatakan berasal dari kata fetob artinya memberi rakyat kepada raja. Dari kata itu timbul sebutan Uis (Usif) Feto dan Uis (usif) Mone.
Ada baiknya masalah istilah ini ditinggalkan saja untuk kembali pada judulnya. Istilah nama marga Sonbai timbul dari nama istananya maka apakah nama asli yang sebenarnya? Menurut Tua Sonbai sebenarnya mereka tidak memiliki nama marga karena mereka berasal dari Belu Selatan. Oleh karena itu nama leluhurnya hanya satu mulai dari yang pertama sampai ketiga. Leluhur mereka yang datang dari malaka (Belu Selatan) bernama Nai Laban (menurut sebutan di Oenam) atau Nai Dawan (menurut sebutan di Belu). Sebutan suku bangsa belu-malaka terhadap orang di pegunungan dengan dawan sebenarnya berasal dari nama leluhur Sonbai yang pertama yaitu Nai Dawan. Nai Dawan adalah turunan dari raja besar wehali yang berdiam di laran yaitu Maromak Oan. Nai Dawan adalah putera kedua dari Nai Maromak Oan, sedang putera pertama adalah Nai Suli atau Nai Suri, dan putera ketiga bernama Nai Taek.
Menurut Gabriel Asa di Laktutus putera kedua bernama Nai Tabe'i Liurai. Tabe'i Liurai adalah gelaran dari Nai Tuklua Sonbai putera Nai Lele Sonbai yang pertama kali meletakan batas wilayah antara wehali dengan Oenam di Noel Bilomi.
Nai Suri Liurai, kemudian ditugaskan sebagai Liurai di wehali atau dalam rangkaian sebutan wesei-wehali, wetoh maubesi. Nai Dawan Liurai kemudian ditugaskan untuk menguasai wilayah Timor dengan sebutan wilayahnya Mutis Babnai, Paenenom Oenam. Sedang Nai Taek Liurai menguasai Wilayah Timur yang disebut Likusaen atau welaku hahuduk, urubaun weluli.
Menurut tuturan para tua adat di Amanatun dan juga almarhum Benufunit dalam tulisannya berjudul Liurai Sonbai dikatakan bahwa Liurai yang pertama bernama Nai Mean, kedua Nai Bainoni, ketiga Nai Lukneno (Lukneno-Mnuke). Ayah mereka pun bernama Nai Lukneno (Lukneno Mnasi).
Manakah yang benar masih perlu diadakan perbandingan tuturan namun dari mulut Tua Sonbai sebagai tuturan dari Nai Maromak Oan, nama ketiga putera itu adalah sebagaimana disebut diatas. Dibenarkan bahwa sewaktu suku bangsa malaka datang ke belu mereka singgah di pantai Amanatun untuk meninjau keadaan wilayah yang memungkinkan untuk ditempati. Dari sana mereka melanjutkan perjalanannya ke belu selatan (Besikama).
Tua Sonbai Almarhum menjelaskan bahwa Nai Dawan Sangat terkenal sebagai seorang pahlawan yang berani, karena itu Ia ditempatkan di Lasae'n wilayah Besikama. Semula Ia bertempat tinggal di Laran (Lalan) bersama Maromak Oan. Nama besikama menurut Tua Sonbai artinya penguasa senjata. Dalam bahasanya sendiri dikatakan “ana” suni-auni.
Perlu dicatat disini bahwa tuturan Tua Sonbai almarhum disampaikannya dalam beberapa tahap kepada saya, sewaktu masih belajar di SMP PGRI soe (1957) yaitu dua tahun sebelum Ia meninggal yaitu tanggal 12 April 1959 di Fatumnutu.
Sabtu, 18 Juni 2016
HUBUNGAN SONBAI DAN KUNE-UF
HUBUNGAN
SONBAI DAN KUNE – UF
Telah dikemukakan
bahwa setelah Nai Faluk berada di gunung Poen (Poenam Tulfufu), Ia menghitamkan
seluruh tubuh dan perhiasan di badannya
dengan jelaga. Dengan demikian seluruh badannya
yang berhiaskan emas dan muti salakh tidak nampak secara jelas, roman
mukanya pun sangat jelek.
Ketika Ia
berjumpa dengan kedua gadis yang sementara mengambil air, matahari terasa panas
sehingga Ia merasa kehausan. Oleh karena itu Nai Faluk meminta bantuan kepada
dua gadis itu untuk memberikan air kepadanya. Tetapi karena Nai Faluk mukanya
jelek, mereka merasa enggan untuk memberikan air minum kepadanya, walaupun
hanya seteguk saja.
Kedua gadis itu
mengatakan bahwa engkau tidak pantas untuk minum air dengan aur emas ayah kami.
Namun demikian Nai Faluk tetap memohon pengasihan mereka, untuk memberikan air
kendatipun seteguk saja. Nai Faluk mengatakan kalau saya tidak layak untuk
minum air dengan aur emas ayahmu, berikanlah saya dengan daun keladi saja.
Akhirnya mereka
merestui permintaannya, namun gadis yang sulung masih belum bersedia
melayaninya : Ia meminta kepada adiknya untuk membantu memberikan Nai Faluk
air. Adiknya memetik sehelai daun keladi, dilipatnya dengan rapih kemudian
menimba air lalu memberikannya kepada Nai Faluk. Setelah Nai Faluk meminum air
itu sisanya digunakan untuk menyiram badannya yang berkeringat dan penuh dengan
jelaga.
Seluruh badannya
kelihatan bercahaya dan roman mukanya pun tampak sebagai seorang pemuda yang
gagah perkasa. Kedua gadis itupun jatuh cinta kepadanya, nampak jelas dari
roman muka mereka yang kelihatan berseri-seri. Nai Faluk mengetahui bahwa kedua
gadis itu telah jatuh cinta kepadanya. Dengan kata-kata yang sopan Nai Faluk
menanyakan nama dari kedua gadis bersama nama julukannya. Kedua berdiri
tersipu-sipu dan malu memberitahukan namanya. Namun akhirnya masing-masing
memberitahukan namanya yaitu yang sulung bernama Bi Lasa (jasa) Kune dan yang
bungsu bernama Bi Lilo (jili) Kune. Sedang nama julukan mereka adalah Esu
(Eusnoni). Nama ayah mereka adalah Nai Ke Kune, sedangkan ibunya bernama Bi
Anin Alupan (Aluman). Keduanya adalah anak pertama dan anak keempat dari Nai Ke
Kune, sedang anak kedua bernama Bi Funa Kune dan yang ketiga bernama Bi Koti
Kune.
Kemudian Nai
Faluk memperkenalkan namanya kepada mereka berdua dan memberitahukan bahwa Ia
adalah anak turunan raja malaka yang menguasai muara sungai ini.
Oleh karena
mereka berdua jatuh cinta kepada Nai Faluk, maka Nai Faluk ingin menguji sampai
sejauh mana kecintaan mereka kepadanya. Ia memohon bantuan dari ilahi dan arwah
para leluhurnya untuk memberikan petunjuk yang baik kepadanya.
Pertama Ia
menetakan pedangnya pada sebatang pohon lalu memintakan kepada Bi Lasa Kune dan
Bi Lile Kune untuk secara bergiliran mencoba mencabut pedangnya. Yang bisa
mencabut pedang itu lebih dahulu adalah Bi Lasa Kune dan ternyata Ia tidak
dapat mencabutnya. Kemudian menyusul Bi Lile Kune untuk mencoba mencabutnya.
Dengan tidak disangka-sangka Bi Lile Kune mampu mencabut pedang itu dengan
mudah sekali.
Namun Nai Faluk
belum puas dengan ujian pertama ini. Untuk kedua kalinya Ia memancangkan
tombaknya ke tanah, lalu memintakan kedua gadis itu untuk mencabutnya lagi.
Sebagaimana percobaan pertama Bi Lasa Kune yang lebih dahulu mencabutnya, namun
Ia tak mampu mencabutnya. Kemudian Bi Lile Kune mencobanya lagi dan ternyata Ia
dapat mencabutnya untuk yang kedua kalinya. Dengan percobaan yang kedua ini Nai
Faluk telah yakin akan hasilnya mengenai kecintaan penuh dari Bi Lile Kune
terhadapnya.
Nai Faluk
menghadap kedua gadis itu lalu mengatakan : karena Bi Lile Kune yang telah
berhasil mencabut pedang dan tombak saya, maka Ia yang akan menjadi Isteriku.
Oleh karena malunya, maka Bi Lasa Kune, pergi meninggalkan mereka. Setelah Bi
Lasa Kune tiba di rumah ayahnya bertanya kepadanya, dimana adikmu? Ia menjawab
dengan nada suara yang menandakan ada penyesalan : Ia sementara menyusul dari
belakang, dengan seorang asing yang saya juga tidak mengenalnya.
Tiba-tiba Bi
Lile Kune tiba di depan rumahnya dengan menyandang pundi-pundi sirih pinang Nai
Faluk sementara Nai Faluk juga menyusulnya dari belakang. Setibanya Nai Faluk
di depan rumah, Ia segera menyapa Nai Ke Kune yang sementara berada di dalam
rumah dengan mengatakan : Hoi Sa'tabu Tuan, Nai Ke Kune menjawab dari dalam
rumahnya : Tam aum Neno Anan, tam aum Sil Neno artinya silahkan masuk anak
dewata silahkan masuk Sil Neno (Sil Neno adalah nama julukan terhormat bagi
marga Sonbai). Kemudian Nai Faluk dan Bi Lile Kune masuk kerumah Nai Ke Kune.
Dengan serta merta Nai Ke Kune turun dari kursi kebesarannya lalu
mempersilahkan Nai Faluk untuk duduk diatasnya.
KEDATANGAN SONBAI KE MUTIS
C.
KEDATANGAN SONBAI KE MUTIS
Mengenai kedatangan leluhur Sonbai ke gunung Mutis
bukanlah atas kesukaannya sendiri untuk berkelana tetapi diutus oleh kakaknya
Liurai Wehali untuk menguasai serta mengamankan wilayah pegunungan, sebagai
sumber aliran sungai besar di pulau Timor.
Banyak penulis orang barat yang mengungkapkan
tentang kedatangan Sonbai dari wehali (malaka) sebagai penjelajahan sekaligus
sampai ke gunung Mutis.
Dr. P. Middelkoop mengutip tuturan dari Balo Kune
yang dimuat dalam bukunya berjudul Lets Over Sonbai mengatakan bahwa Sonbai
datang dari belu melalui Oeluan (Noemuti) terus ke kumlolo dan menemui Nai Ke
Kune di sa'tabu. Namun hal itu tidaklah mungkin, karena situasi dan kondisi
pada zaman kedatangan Sonbai ke Mutis belum aman. Dimana-mana masih saja
terdapat perang tanding antara kelompok-kelompok suku bangsa sehingga dalam
perjalanan penjelajahan wilayah yang harus dikuasainya memakan waktu yang cukup
panjang, puluhan bahkan ratusan tahun.
Sebagai seorang pahlawan, tentu perlu Ia meninjau
lebih dahulu kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Pertama kali Ia menanjak
dari tempat penghuniannya semula yaitu Besikama dan Ia hanya mampu mencapai dan
menguasai wilayah Biudukfoho. Wilayah itu terkenal dalam tuturan almarhum
dengan sebutan berangkai Fautbakus Bi uluk Noel Bi Lomi. Yang disebut Fautbakus
Bi uluk Noel Bi Lomi sebuah bukit yang pernah ditunjukan oleh almarhum Tua
Sonbai ketika sedang membangun lumbung makanan di ladangnya Nonohonis (desa
Oinlasi, Kecamatan Mollo Selatan 5 Km dari Soe arah ke Kapan). Dari bukit itulah leluhurnya meletakan batas
wilayah dengan kakaknya Liurai . bila dikutip dari kata-katanya dengan bahasa
dawan berbunyi : Bi le a tubu nae in tunan, le hai Uiskoknais-unu nabela nakat
nok in tataf Liulai. Dikatakan bahwa diatas bukit Biulukfoho (Biudukfoho)
mereka memandang ke seluruh wilayah pegunungan seraya mengatakan : Eut-naijuf
ma po'naijuf, eut naimnuke en oenunu Behael an mainua ma namnamben artinya
tanah kintal pangeran, tanah padang pangeran yaitu wehali telah luas.
1. Peninjauan/Pengamatan
Menurut
tuturan dari Balo Kune kepada Middelkoop yang dimuat dalam bukunya Lets Over
Sonba'i dikatakan bahwa Sonba'i berjalan terus sampai ke kupang tetapi tidak
menemui penguasa wilayah ataupun penduduk. Lalu Ia kembali melaporkan kepada
kakaknya Liurai Wehali bahwa Ia tidak pernah menemui penguasa wilayah
pegunungan (dlm bhs dawan Pahe Nakan) kemuadian Ia disuruh kembali lagi oleh
Liurai Wehali untuk mencari penguasa pegunungan (Pahen Nakan) dan apabila telah
dijumpainya supaya mengirimkan beritas kepadanya. Sebab utama penugasan Sonbai
untuk mencari penguasa wilayah pegunungan dikarenakan mereka tinggal dekat
pantai laut sehingga mereka sangat kekurangan air tawar pada musim kemarau.
Pada musim kemarau mereka sering kali hanya minum air yang rasanya asin sekali
karena semua air tawar telah kering. Oleh karena itu mereka harus menguasai
sumber air sungai benenai untuk tidak kekurangan iar di musim kemarau.
Menurut
Tua Sonba'i Almarhum bahwa Ia ditugaskan untuk mencari dan menemukan hulu
sungai benain untuk mengamankannya, karena kalau tidak demikian, maka
keselamatan mereka yang bermukim di muara sungai benain akam mengalami
kesulitan dikemudian hari.
Tentang
peninjauan atau pengamatan wilayah menurut almarhum Tua Sonbai tidak
dilakukannya sendiri melainkan leluhurnya menugaskan para pengiringnya untuk
meninjau wilayah pegunungan karena karena leluhurnya seorang bangsawan dan
sekaligus berkedudukan sebagai pahlawan. Peninjauan wilayah pegunungan
ditugaskan kepada beberapa kelompok peninjau yang masing-masing dipimpin oleh
seorang pemimpin kelompok. Nama dari pimpinan masing-masing kelompok itu akan
dijelaskan di bawah ini :
Neon
unu fai unu, Liulai-le'u, Sonba'i-le'u, Liulai-Sila Sonba'i-Sila, non sin pah
ma non sin nifu. Sae nem nako oemataf ma peut-uf, es oehonis-Oenunu, Oetobe ma
Maubesi, na ne nak on tufe ba'noni un te esnan, fae ba'noni un te esnan, po
naijuf te esnan, eut naijuf te esnan.
Na
ait okam na'latnok antein, neuba Fautbakus Bi Uluk Noel Bi Lomi : te nanet na
te'pok anbin ma nasnapbok anbin, an ba nok anbin ma an biul nok anbin. Nak on
bahan namnamben, bilu namnamben, bahan po'naijuf te esnan bilu po'naijuf te
esnan bahan po'naimnuke te esnan, bilu po'Naimnuke te esnan.
An
pene matan Neno, human Neno, an latan matan Neno ma human neno, neu ba tua
mainuan, tune mainuan, sane mainuan, ma lele mainuan, tubu mnaun ini okem mnaun
ini es : Lobus Tubaki Keunam Tosana Nufu ma Taimetan Baboti ma Oenaek, Namkelam
Noemuti Fautboke ma Aenma'u, Temnam Konbaki, Kemuni Manenu, pun-am Senpena
Loil-am Belo-boton.
Leolkan
fanim an bain an fanit nako : Bonem Sambet Boenam Ainan, Lilom Tuaton Ansam
Fautfue, Ukbui-am Fautkoto Nasim Oenoah : Sonaf Penkolo Hae-nilulat, Kunu
Pansui Buitnam Ansaof, Nun nonim Hasoknobe Mausikum Oel Nai Obas, Kekbanim
Maunfui Meo-sine Atbe, Saubnim Noenon Sunu am Ta nuka Taenam Lakusna'o, Lanum
Fobesi Linkaki ma Aset.
Lakan
tenim man elan tenit nako : Meun-am Oe-un, Hoineno ma Oekam, Bibkon-kono
Sahle-le'u Sah-nam Oko Toli ma Saenam, sanum Oelok Ninom Nenoat, Fat ma Tole'u
Kenum Fautmatoak, Bensam Oebo' bieka oelai, Putnam Sobo, Tobe ma nauban Sona'
Liunesi, Kini –naekam Kini-kliko, Tesi ma Toinheka, lunum simo Lunu Nianam
Klone ma Laenpani.
Tek
no meset nak tun-aman Fautmean, Laimun ma laimean, Nekin Neofanu, Neofanu Onam.
Tenin-tenit-nako
: Faum Fautkopa Kiki ma Bubneo Matliam Bi Keke, Pisnam Laisnon Ailam Neonmat,
Tef-tefam Oenai, Oetoli ma Oefatu, Kianam Babuin Putnim Nunpene, ofu Manenu
Baki ma Tunis : te nenet baki Nai Sonbai nabelkon esan, tola Nai Sonbai
nabelkon esan.
Sanun
finit neuba lamu in nanan, nais meni in nanan es : Naem Nailete Kuamukem Bi
Ta'e, Taspupu ma Tpuamanu Omem Feu, Kusi ma Tektek no'in Nifu ma Pleo, Tapnam
Tuikneno Kele ma ba'namas Niuflo'im Haumahatas, Kitnam Mat molo Kuafenum
Fatu-tuta, Nekem Kualin, Kualin ma Kuatae, Toai'm Tuapakau Kokne'em Fatukbubu :
te nanet baki Nai Sonbai, tola Nai Sonbai nabelkom esan.
Sanun
finit neuba tasi in ninen nifu in ninen, oki tu'an pesen tu'an, tua mnelan tune
mnelan es: Bitnam Ajaononi Nolnam Ta'us, Oelamam Oeme Kobom Tuafanu Kati ma
Haumeto Tefa ma Sonbaunin, Beno Maiste Bena unmoen, polom Esliu Bonim uptuka,
pnitem Elbos Linfahi ma oekonos.
Li'an
fanin noebanin fanit nako : Lulfam Batnun Sumnam Niufkusi Sa'Laelam Nifupapan
Buniunam Fatutnana, Filim Oebaki Putu Oelhue, Nullem Tenusmala Ailam Neonmat
Mnela koto ma Tuafanu.
Tek
no meset nak : Bunu Biteno Nenum Banam, Klaban Tainlasi Pillim Tunbesi Pillim
Nuntobe Se'se' om ma Sa'sa, Kuku ma Tutasi
Maunam Niki-Niki Lokim Aisbesi Sesna'em Faunan.
Se'an
tenim ma nao ntenit, neuba Su tnana auti-tnana es: Lu'um Neofna Sekim Suana'e
Keko ma Tiuptunis, Benum Ektob Kona-Menlam Nunu-lete, Snaplobim Hu'he'o
Sakalili Met'ana Lilham ma Ponain. Tek no meset nak on : Sonim Bi-Nifu Telo ma
Talmanu, Fautle'um Manu – opat.
Se'an
tenit neuba Tunbaun ma Nekbaun, Kopnam Olain Lilom Bauknasi Kiututa ma Boinbeti
Sub'am Fautfeto Nunhilo –Naomusain ma Tanon nane pahe tu'an te esnan, nifu
tu'an te esnan eno teu – Sane Bunten Lele Bunten nesu teu Sane Bunten Lele
Bunten.
Leolkan
fanit neuba tubu-mnanu oke mnanu Timau ma faumes Nonem Bi-noni on petah Bi-Noni
kusem Bi-Noni te esnan.
Laka
tenit neuba tubu-mnanu oke-mnanu Mollo ma sesnup Poelnim Ajaopenu, Ipsam Kokla
Nanjafam Naususu, Fua ma bunbun hu'e ampupu eukinim-tefkini : sah – nam
bikekneno Mutis ma babnai paeneno ma Oenam, Poenam Tulfufu Tabunam Noemuti
Batan Bisunimnasi, Koki ma benbesi, Leomnam ma Nu'naunu Salu ma Meomafo, Bunu-
ma Memata Ebnam Naenmt an, Saenamam Kuafenu Soni ma Susbi'an.
Se'an
tenit natet Kabuksala Snaemnanu Loilkase Mataunome Sabu ma Oekusi, Sis-aula
Taemnanu Kolboki Bastia Humusu ma Fau-na, To'am Foitlelo Faifnesu ma Boik-boik,
Fainan Maubesi Nekim Neofaun.
Te
nanet nak on pahe usan te esnan, pahe tnanan te esnan Eno-tnanan Liurai ma
sonbai te esnan. Lo nahakeb ni nua esna : teket nak Ni Liurai Ni Sonbai.
Demikian
nama-nama tempat yang menurut almarhum Tua Sonbai ditinjau dan diamati oleh
para kelompok peninjau yang diutusnya. Bagaimana hasil peninjauan dari
kelompok-kelompok peninjau itu, yang telah dikirimkan oleh leluhur Sonbai yang
bernama Nai Laban (Dawan) dari Biudukfoho akan diuraikan berikut ini :
LAPORAN
HASIL PENINJAUAN
Telah
diuraikan diatas bahwa Nai Laban (Nai Dawan) menugaskan beberapa kelompok
pengiringnya dari Biudukfoho untuk meninjau seluruh daerah pegunungan, sampai
ke ufuk barat pulau Timor, kemudian kembali melaporkan mengenai keadaan wilayah
peninjauanya. Para peninjau terdiri dari enam kelompok, tiap kelompok dipimpin
oleh :
1. Selan
Balia (Seran Baria) untuk wilayah Amanatun
2. Balia
Nahak (Baria Nahak) untuk wilayah Amanuban
3. Selan
Leki (Seran Leki) untuk wilayah Fatule'u
4. Selan
Fahik (Seran Fahik) untuk wilayah ufuk Barat
5. Atok
Fahik untuk wilayah Mollo dan Amfo'an
6. Fahik
Balia (Fahik Baria) untuk wilayah Meomafo, Insana, Biboki dan Ambenu.
Dari beberapa kelompok diatas dapat
dikisahkan bahwa sebelum mereka berangkat dipersoalkan mengenai apa yang akan
dimakan selama melakukan peninjauan. Dijelaskan oleh Nai Laban bahwa Ia diutus
untuk menguasai wilayah pegunungan. Oleh karena itu bilamana mereka mengalami
kekurangan bahan pangan, buatkanlah sebuah metsbah (baki-tola), kemudian
sebutkanlah namanya, maka burung-burung di hutan pun dipanggil akan menyahut
dan datang pula.
Dengan berpegang pada pesanan dan amanat
Nai Laban itu kelompok-kelompok peninjau mulai melakukan tugasnya pada wilayah
masing-masing. Peninjau itu dikatakan memakan waktu karena kondisi alam yang
masih buas.
Hasil yang dilaporkan oleh para kelompok
peninjau setelah kembali adalah sebagai berikut :
a.
Laporan Tentang Amanatun
Dikatakan
bahwa wilayahnya berbukit-bukit, berlekak-lekuk dan curam. Penduduknya sedikit,
tinggal berkelompok, mengembara dan meramu hasil hutan dan juga di
puncak-puncak bukit banyak terdapat pula kayu cendana.
b.
Laporan Tentang Amanuban
Wilayah
Amanuban sangat kecil sekali sedangkan bagian terbesar didiami oleh rakyat dari
Tkesnai. Merekapun tinggal secara berkelompok dan tersebar di bukit-bukit.
Makanan mereka adalah ubi-ubian, keladi dan berburu binatang hutan serta
mencari madu di pohon-pohon dan batu-batu. Hutannya sangat lebat di bagian
pantai selatan terdiri dari gewang, lontar, asam dan pohon dilak : banyah juga
terdapat buaya, rusa dan babi hutan.
c.
Laporan Tentang Fatule'u
Wilayah
Fatule'u banyak ditumbuhi bambu-bambu hutan, pohon pinang, kayu putih dan
cendana. Hutannya sangat lebat dan mereka tidak pernah menemukan penduduk
disana. Banyak terdapat rusa, babi hutan, ayam hutan, lebah dan
binatang-binatang lainnya.
d.
Laporan Tentang Ufuk Barat
Keadaan
wilayahnya terdiri dari dataran rendah yang banyak ditumbuhi gewang dan lontar datarannya
banyak berawah-rawah. Di ufuk barat banyak ditumbuhi pohon-pohon asam dilak
serta berbatu karang. Untuk memasukinya sangat sulit karena alang-langnya
sangat tebal. Penduduk tidak ditemukan di tempat ini.
e.
Laporan Tentang Mollo Dan Amfoa'an
Penduduknya
baru berjumlah sedikit dan berdiam di puncak gunung – gunung yang tinggi. Semua
sungai berhulu di kaki gunung yang tinggi (Mutis) serta banyak ditumbuhi pohon
ampupu, kayu putih dan kasuari. Makanan penduduk yang ada adalah ubi hutan,
keladi hutan, buah serikaya, mencari madu di pohon-pohon, batu-batu serta
berburu binatang hutan. Di bagian barat tidak terdapat penduduk disana, banyak
ditumbuhi bambu hutan, serta banyak rusa, babi hutan dan kera. Hutannya sangat
lebat dan sulit untuk dimasuki karena alang-alangnya sangat lebat pula.
f.
Laporan Tentang Meomafo, Insana, Biboki
dan Oekusi
Datarannya
cukup luas dan ditumbuhi alang-alang yang sangat tinggi. Penduduknya sedikit
dan mereka adalah orang Molus (Melus), Tkesnai dan sering terjadi saling
menyerang antara kedua suku bangsa itu. Hidupnya mengembara, makan ubi hutan,
keladi hutan, berburu dan mencari madu di hutan. Wilayah itu banyak ditumbuhi
cendana, kayu putih, lontar, gewang, pohon asam dan dilak.
Dari
laporan hasil peninjau diatas Nai Laban telah mendapat gambaran tentang situasi
dan kondisi wilayah yang akan dikuasainya. Disamping itu Ia dapat mengatur
langkah perjalanannya lebih lanjut, untuk mewujudkan tujuan penugasannya untuk
menguasai hulu sungai benenain.
Demikianlah
kisah yang pernah dituturkan almarhum Tua Sonbai, Raja kerajaan Mollo ini.
Ditambahkan bahwa Nai Laban kemudian berpindah ke Noel Bi-Lomi. Di tempat itu
Nai Laban bermukim untuk beberapa tahun lamanya. Dan di tempat itu pula Nai
Laban pernah bermusyawarah dengan kakaknya Liurai Wehali, untuk menguasai
wilayah-wilayah pegunungan yang telah ditinjaunya. Karena itu sungai dimana
mereka bermusyawarah disebut Noel Bi-Lomi, asalnya dari kata malomi atau
makalomi artinya bermusyawarah.
Namun
tidak dapat disangka, bahwa tiada beberapa lama Nai Laban bermukim di Noel Bi
Lomi Ia meninggal bersama isterinya yang bernama Bi Mako dan dimakamkan bersama
di tempat itu. Mereka meninggalkan seorang putera yang bernama Nai Natti, yang
juga telah dewasa. Nai Natti kemudian kembali ke besikama lalu beristeri
disana. Nama-nama isteri Nai Natti adalah Bi Kesi. Kemudian Nai Natti kembali
lalu berpindah ke Humusu dan dengan para pengiringnya bermukim di humusu.
Selama
berada di humusu, Nai Natti hanya bisa berusaha untuk menguasai penduduk yang
mendiami wilayah itu secara tidak menetap. Menurut kisahnya bahwa penduduk yang
berdiam disitu terdiri dari orang-orang molus (melus) yang bertubuh pendek, berkulit
hitam dan berambut keriting. Mereka sering kali berperang dengan orang-orang
Tkesnai, yang juga berdiam secara berkelompok di wilayah humusu (Insana).
Alat-alat perang mereka adalah lembing, tombak kayu, panah dan saling melempar
dengan batu atau ali-ali. Tempat tinggal mereka di gua-gua bitauni dan
sekitarnya.
Nai
Natti akhirnya meninggal bersama isterinya di humusu dan dimakamkan disana.
Makam dari Nai Laban bersama isterinya di Noel Bi Lomi dan makam Nai Natti
bersama isterinya di humusu tidak diketahui persis dimana letaknya.
Pada
waktu Nai Natti bersama isterinya meninggal mereka meninggalkan pula seorang
putera yang bernama Nai Faluk. Menurut tuturan dari Nai Balo Kune kepada Dr.
Middelkoop disebut Nai Falukis Belus. Sebelum Nai Natti meninggal Ia
meninggalkan amanat yang harus dipenuhinya yaitu harus melanjutkan perjalanan
ayahnya untuk menguasai wilayah pegunungan dimana sungai benain berhulu. Ketika
Nai Natti bersama isterinya meninggal Nai Faluk masih remaja. Berita
meninggalnya disampaikan kepada kakaknya Liurai Wehali. Oleh karena itu Liurai
Wehali menugaskan Fahik Bere dan Ifo Bere (Nai Bele dan Iof Bele) dari Lasaen
menyusul dan tinggal bersama Nai Faluk di humusu.
Mereka
datang bersama sejumlah pengiring, dengan membawa ternaknya pula. Nai Faluk
sebagai putera turunan pahlawan jiwa kepahlawanan tetap melekat dalam hati
sanubarinya. Oleh karena itu, Ia sering kali berkelana kemana-mana.
Dikisahkan
bahwa pada suatu hari, Nai Faluk memberitahukan para pengiringnya bahwa Ia akan
bepergian ke tempat yang jauh. Oleh karena itu Ia memesankan kepada para
pengiringnya untuk tetap menanti di tempat, karena Ia akan segera kembali.
Menurut
tuturan dari Nicodemus Fobia (ayah kandung saya) mafefa raja Mollo, bahwa
sewaktu Nai Faluk melakukan perjalanannya ini, Ia mengendarai seekor kuda
tunggang kebesarannya, diberi nama Bilu Oba.
Dalam
perjalanannya Nai Faluk melintasi lorong bukit fafinesu (faifnesu) menuju ke
Tunbaba. Menurut kisah yang dituturkan bahwa bekas kaki kuda Bilu Oba, masih
terdapat diatas sebuah batu di Kobe Faifnesu. Sampai sejauh mana kebenarannya,
belum pernah diadakan penelitian kesana.
Di
Tunbaba Nai Faluk bermukim untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian Ia
melanjutkan perjalanannya melalui Nunpo, Tnais, Nilulat, terus menuju ke panaf Aj
(Ai), koki ma bonbesi, menyeberang sungai Noebesi (Hulu sungai Benanain) dan
tinggal untuk sementara waktu di gunung Poen (Poenam Tulfufu). Dari tempat
tinggal sementara ini, Ia melakukan penyelidikan sekitar wilayah gunung mutis
dan diketahui bahwa telah ada penduduk yang mendahului mendiami gunung
tersebut.
Dalam
perjalanan Nai Faluk dari humusu, Ia membawa serta sebatang tombak, sebilah
pedang dan seluruh perhiasan kebesarannya. Sebagai orang yang berkelana
sebatang kara, bagaimanapun Ia merasa kuatir dan takut. Untuk itulah Ia mulai
mencari daya upaya bagaimana Ia dapat mengabui mata penduduk yang mendahului
dan menguasai mereka. Upaya yang dapat dipikirkan adalah membuat api unggun
diatas gunung Foen, sehingga asapnya berkepul ke langit. Pada zaman dahulu,
apabila orang membuat api unggun dan asapnya berkepul ke langit, itu berarti Ia
telah menguasai wilayah itu. Dalam ungkapan bahasa dawan disebut antiup no'am
nafu ai(aj). Sesudah Ia membuat api unggun, Ia menghitamkan seluruh tubuhnya
dengan jelaga, termasuk seluruh perhiasan kebesarannya. Maksudnya untuk
menyesuaikan keadaan kulit tubuhnya dengan penduduk yang telah ada, karena
mereka berkulit hitam, sedang Ia berkulit sawo matang.
Kemudian
Nai Faluk melanjutkan perjalanannya melalui pauk-fuinu, melintasi sungai Takaeb
(Noel Takaeb) yaitu tempat bermukim dari marga Takaeb pada mulanya. Dari sana
Ia menuju ke sebelah selatan dan tiba pada suatu bukit batu. Di bawah bukit
batu itu Ia menemukan suatu sumber air dan beristirahat disitu untuk makan
minum, karena Ia merasa lapar dan haus. Setelah makan dan minum Ia tertidur di
bawah bukit batu tersebut. Pada saat tertidur Ia bermimpi bahwa seorang datang
menemuinya dan berkata kepadanya : engkau akan menjadi penguasa atas wilayah
pegunungan ini : bangunlah dan lanjutkanlah perjalanan ke tepi sungai, karena
disana engkau akan menjumpai orang.
Orang
yang dilihat dalam mimpi itu berpakaian kebesaran dengan bertetakan emas yang
berkilau-kilauan. Ia terbangun dari tidurnya, lalu melanjutkan perjalanannya
sesuai dengan petunjuk yang diperolehnya dalam mimpi. Ia berjalan melalui
Tublopo Fatuhoibeti, terus menuju ke tepi sungai Noebesi. Setelah tiba di Neten
Bi Neno, Ia berbelok menuju suatu tempat yang diperkirakannya ada sumber air
untuk minum karena sudah kehausan. Ia menjumpai dua orang gadis sementara
menimba air disitu. Mata air itu kemudian diketahui namanya Oel afo'an.
Langganan:
Komentar (Atom)